Menkes Budi Gunadi Sadikin dorong gerakan hidup sehat dengan target hidup hingga 80 tahun. Label gizi A-D hadir di mal, ajak anak muda beralih ke Americano zero kalori/Foto: Humas KemenkesIndoragamnewscom, JAKARTA-Kesenjangan angka harapan hidup antara Indonesia dan Denmark mencapai satu dekade. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai perbedaan signifikan ini tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi medis semata, melainkan oleh pilihan gaya hidup sehari-hari.

“Kuncinya sederhana: indeks massa tubuh (BMI) di bawah 24 dan lingkar pinggang ideal,” tegas Budi Gunadi saat membuka Obesity Disease Awareness Event di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Menkes mengambil contoh nyata Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Sten Frimodt Nielsen, yang tetap bugar di usia 62 tahun dengan BMI kemungkinan di bawah 24. Standar kesehatan global WHO menetapkan batas lingkar pinggang aman pria di bawah 90 cm dan wanita di bawah 80 cm.
Kementerian Kesehatan kini mengubah strategi pendekatan. “Program Kesehatan” yang bersifat instruksi dari atas akan bertransformasi menjadi “Gerakan Hidup Sehat” yang digerakkan oleh kesadaran individu. “Kesehatan itu tidak bisa dipaksakan. Ownership-nya harus ada pada setiap individu, bukan hanya di kementerian,” ujarnya.

Langkah konkret pertama adalah pelabelan gizi Nutri-level (A, B, C, D) yang mengadopsi sistem Singapura. Label ini akan segera diwajibkan di mal dan jaringan kedai kopi. Targetnya adalah menciptakan tren baru di kalangan anak muda, terutama di perkotaan.
“Kita harus buat ini jadi lifestyle. Bikin bahasa anak Jaksel-nya jadi ‘FOMO’ (fear of missing out). Orang harus merasa lebih keren minum Americano (Kategori A/B) yang nol kalori daripada minuman manis yang tidak sehat,” jelas Menkes.
Untuk menggerakkan tubuh, Menkes merujuk pada standar WHO: olahraga minimal 30 menit sehari, 5 hari dalam seminggu untuk menurunkan hormon kortisol (stres) dan meningkatkan endorfin.
Sebagai bentuk kampanye nyata, Budi Gunadi berencana mengikuti gelaran 2026 BTN Jakarta International Marathon. Ia akan mendampingi pelari tunanetra di kategori 21 kilometer.
“Saya ingin tunjukkan, orang yang memiliki keterbatasan penglihatan saja tetap lari, masa kita yang sehat tidak mau bergerak,” pungkasnya.







Tidak ada komentar