Ekspor minyak kelapa RI 2025 volume turun 18 persen tapi nilai naik 43 persen akibat lonjakan harga. Indonesia masih eksportir terbesar kedua dunia dengan pangsa 22 persen/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom, JAKARTA-Indonesia mempertahankan posisi sebagai eksportir minyak kelapa terbesar kedua dunia sepanjang 2025. Tapi ada keanehan dalam data perdagangan: volume turun drastis, nilai ekspor justru meroket.

Kajian sektoral Indonesia Eximbank (IEB) Institute mencatat, pada Januari-Desember 2025, volume ekspor minyak kelapa—baik mentah (HS 1513.11) maupun dimurnikan (HS 1513.19)—turun sekitar 18 persen. Namun nilai ekspor kumulatif melonjak lebih dari 43 persen.
“Peningkatan nilai ekspor ini terutama dipicu oleh lonjakan harga akibat terbatasnya pasokan bahan baku, dan pasokan domestik, yang turut dipengaruhi oleh El Nino sehingga sebagian pabrik mengurangi kapasitas produksi sementara,” kata Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani dikutip Minggu (31/5/2026).
Fenomena serupa terjadi di Filipina, eksportir utama dunia. International Coconut Community (ICC) mencatat volume ekspor Filipina Januari-November 2025 turun 15,3 persen, tapi nilai ekspor naik 35,6 persen year-on-year.

Pasar Tersebar ke 90 Negara
Pangsa pasar global Indonesia mencapai 22 persen pada 2025. Filipina memimpin dengan 49 persen, Belanda di posisi ketiga dengan sekitar 10 persen.
Keunggulan Indonesia: diversifikasi pasar. Minyak kelapa RI diekspor ke lebih dari 90 negara. Tidak bergantung pada satu atau dua tujuan utama.
Pasar utamanya: Belanda, Tiongkok, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat. IEB Institute melihat peluang penetrasi lebih lanjut ke Eropa dan kawasan non-tradisional seiring meningkatnya permintaan global terhadap minyak kelapa murni untuk gaya hidup sehat, kosmetik, dan produk kesehatan.
“Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk melakukan penetrasi ekspor ke pasar yang menaruh perhatian pada produk berbasis keberlanjutan, seperti Uni Eropa,” ujar Rini.
Proyeksi 2026: Tumbuh 9 Persen
IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa Indonesia tumbuh moderat sekitar 9 persen pada 2026. Prospek ini dipengaruhi pemulihan produksi kompetitor (Filipina) dan penyesuaian harga kelapa ke level normal [2][6].
Tapi tantangan tetap ada di sisi hulu: penuaan pohon kelapa, produktivitas pekebun kecil yang rendah, cuaca ekstrem, dan meningkatnya ekspor kelapa bulat ke luar negeri.
Pemerintah sudah memulai peremajaan kebun. Realisasi 2024 mencapai 44,9 ribu hektare. Target perluasan program replanting ditingkatkan hingga ratusan ribu hektare pada periode 2026-2027.
“Peremajaan kebun kelapa dan penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri minyak kelapa nasional,” kata Rini.
Di sisi hilir, penguatan industri pengolahan bernilai tambah dinilai perlu untuk meningkatkan daya saing, memperluas pemanfaatan bahan baku domestik, serta mendorong ekspor produk kelapa yang lebih tinggi nilainya.
“Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran minyak kelapa sebagai komoditas potensial yang berkelanjutan dan mampu mendorong kinerja ekspor nasional ke depan,” pungkas Rini.






