Saat Istri Marah, Umar bin Khattab Beri Teladan Kesabaran Tanpa Kekerasan

3 menit membaca
Fitri Sri
Khazanah - 17 Apr 2026

Indoragamnewscom-Kemarahan istri bisa dipicu oleh hal sepele: handuk basah di tempat tidur, rasa makanan yang kurang enak, atau cemburu buta. Namun dalam Islam, suami dilarang membalas dengan kekerasan. Khalifah Umar bin Khattab memberikan teladan: sabar, memaafkan, dan mendengarkan.

Rasa marah bisa dialami siapa saja, anak-anak, orang dewasa, hingga orang tua. Dalam keluarga, kemarahan sering menjadi pemicu perpecahan. Salah satu dinamika paling umum terjadi ketika seorang istri meluapkan emosinya kepada suami.

Kemarahan itu bisa nyata atau dipendam. Pemicunya kerap sepele: rasa curiga, cemburu, masalah keuangan, hingga makanan yang tidak sesuai selera.

Menanggapi hal ini, tak jarang suami justru terpancing. Emosi naik, dan berujung pada tindakan kasar. Padahal perbuatan kasar suami terhadap istri sangat dilarang dalam Islam.

Lalu apa yang harus dilakukan suami saat menghadapi kemarahan istri?

1. Bersabar, Teladan dari Umar bin Khattab

Seorang lelaki pernah datang ke rumah Sayyidina Umar RA untuk mengadukan perilaku istrinya yang sering marah. Sesampainya di sana, ia melihat istri Umar RA juga sedang marah. Sang khalifah hanya diam.

Umar RA lalu berkata kepada lelaki itu, “Wahai saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya, karena itu memang kewajibanku. Istrikulah yang memasak makanan, membuatkan roti, mencucikan pakaian, dan menyusui anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya. Di samping itu, hatiku merasa tenang (untuk tidak melakukan perbuatan haram—sebab jasa istriku). Karena itulah aku tetap sabar atas perbuatan istriku.”

Kesabaran yang dicontohkan Umar RA bukan sekadar diam tanpa arah. Ia menahan diri untuk tidak terjebak emosi, mendengarkan sang istri, dan berusaha mengingat-ingat kebaikan istri.

2. Memaafkan Kesalahan Istri

Kisah yang sama menunjukkan bahwa Umar RA memiliki hati yang luas. Ia tidak tersinggung. Ia tidak sakit hati. Ia bahkan tidak terbawa emosi hingga berbalik memarahi istri.

Islam menganjurkan sikap saling memaafkan. Allah berfirman dalam QS Ali ‘Imran: 159:

“Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

3. Bersikap Adil: Memberi Istri Hak untuk Didengar

Keadilan yang dicontohkan Umar RA diwujudkan dengan memberikan istri hak untuk didengar. Meskipun aspirasi yang disampaikan sang istri datang dalam bentuk kemarahan, itu tetap menjadi bentuk keadilan.

Sebagai suami, Umar RA mengerti hak-hak istri dengan baik. Ia selalu mengingat jasa-jasa istrinya. Ia menghargai dan menghormati. Karena itu, ia tidak melampaui batas saat sang istri sedang marah.

Dengan kesabaran, pemaaf, dan keadilan yang konsisten, kemarahan istri pun akan lebih cepat mereda. Rumah tangga tetap utuh. Dan yang terpenting: tidak ada kekerasan yang terjadi.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!