Arsitektur Gedung Sate Memadukan Gaya Moor dan Oriental Dengan Biaya Pembangunan Enam Juta Gulden

3 menit membaca
Fazar Eka
News, Wisata - 13 Feb 2026

Indoragamnewscom-Gedung Sate yang kini berfungsi sebagai pusat pemerintahan Gubernur Jawa Barat memiliki sejarah konstruksi yang melibatkan perpaduan budaya lintas negara.

Pembangunan gedung ini dimulai pada era kolonial di bawah arahan arsitek J. Gerger yang mengadopsi gaya arsitektur Moor dan Oriental, sebuah kombinasi unik yang terinspirasi dari elemen desain Indonesia serta Thailand.

Proyek besar ini awalnya dikenal dengan nama Governement Bedrijven (G.B.) dan dirancang terdiri dari tiga bangunan utama sebagai pusat perkantoran instansi pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.

Gubernur Jenderal Batavia saat itu menugaskan Johanna Catherina Coops dan Patronella Roeleesen untuk memimpin jalannya pembangunan fisik gedung. Meskipun pengawasannya melibatkan tenaga ahli dari berbagai etnis seperti Cina, Arab, dan para menak Bumiputera, tenaga kerja utama dalam proyek prestisius ini adalah warga pribumi.

Penggunaan material bangunan dipilih secara selektif dengan mendatangkan batu gunung dari daerah Cipatat, Rajamandala, hingga Batu Reog di Lembang untuk memastikan kekokohan struktur bangunan.

Makna Filosofis Enam Butir Sate Pada Puncak Bangunan

Nama ikonik Gedung Sate ternyata lahir dari elemen visual yang merepresentasikan total anggaran yang dihabiskan selama proses konstruksi awal. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan tahap pertama mencapai angka 6 juta gulden.

Angka enam tersebut kemudian divisualisasikan oleh para perancang menjadi ornamen berbentuk enam butir sate yang tertancap pada ujung puncak bangunan utama. Simbolisme ini tidak hanya menjadi penanda biaya, tetapi juga menjadi identitas yang melekat erat di benak masyarakat hingga saat ini.

Kecepatan pembangunan fondasi beton, penyusunan batu, hingga pengecoran beton tergolong sangat impresif karena berhasil diselesaikan dalam waktu empat bulan oleh pelaksana Waterkrachter Electrocillet (W&E).

Ornamen yang menghiasi pintu, atap, dan gapura bangunan menjadi bukti nyata keberhasilan penggabungan gaya arsitektur Timur dan Barat secara harmonis. Hal ini menjadikan gedung tersebut salah satu karya arsitektur paling estetis dan monumental yang pernah berdiri di tanah Jawa Barat.

Evolusi Struktur Bangunan Dari Masa Kolonial Hingga Era Modern

Meskipun dalam rancangan awalnya terdiri dari tiga gedung, pada masa pemerintahan Hindia Belanda hanya dua bangunan utama yang berhasil diselesaikan secara utuh, yakni bagian tengah dan sayap kiri.

Kekurangan struktur tersebut baru terlengkapi puluhan tahun kemudian melalui pembangunan sayap kanan. Perluasan ini dilakukan oleh Biro Arsitek Team 4 di bawah kepemimpinan Ir. Sudibjo Projosaputro, M.Arch, guna memenuhi kebutuhan operasional pemerintahan yang semakin berkembang.

Keberadaan Gedung Sate saat ini tidak hanya sekadar menjadi kantor birokrasi, tetapi telah menjelma menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya.

Keaslian material batu alam yang masih terjaga hingga kini memberikan atmosfer otentik bagi siapa saja yang mengunjunginya. Pelestarian nilai-nilai sejarah dan arsitektur pada bangunan ini menjadi prioritas utama guna menjaga warisan budaya yang memiliki nilai historis sangat tinggi bagi bangsa Indonesia.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!