Buah Buni yang Langka Ternyata Kaya Antosianin

3 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 21 Mei 2026

Indoragamnewscom-Buah buni mulai sulit ditemukan. Pekarangan rumah yang dulu rindang pohon buni kini berganti tanaman lain. Padahal di balik ukurannya yang mungil, buah ini menyimpan potensi luar biasa.

Nama latinnya Antidesma bunius. Di Sunda disebut huni, di Jawa disebut wuni, di Bali dikenal boni, dan di Kupang masyarakat menyebutnya kiti kata. Tanaman ini asli dari Asia Tenggara, Melanesia, dan Australia utara. Pohonnya bisa tumbuh hingga 30 meter dengan daun hijau mengilap yang lebat sepanjang tahun.

Musim buahnya tiba antara Februari dan Maret, setelah bunga mekar di September-Oktober. Buah bergerombol dalam tandan panjang, warnanya tak serempak—ada yang putih, merah, dan hitam keunguan dalam satu tangkai. Rasanya asam saat mentah, manis bercampur sepat ketika matang.

Yang membuat spesial adalah kadar antosianinnya. Data dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro menyebutkan, buah buni mengandung 141,94 mg antosianin per 100 gram. Zat inilah yang memberi warna ungu gelap saat buah masak. Antosianin juga ditemukan dalam blueberry, anggur, dan terong, tapi kadar dalam buni disebut cukup tinggi.

Senyawa ini bekerja sebagai antioksidan. Di dalam tubuh, antosianin menangkal radikal bebas, mencegah penyumbatan pembuluh darah, melindungi lambung dari kerusakan, dan menghambat sel tumor. Sejumlah penelitian juga menunjukkan kemampuannya sebagai anti-inflamasi serta pencegahan obesitas, diabetes, dan penyakit neurologis.

Selain antosianin, buah buni mengandung flavonoid dan tanin. Kandungan gizi per 100 gram buah: energi 32 kkal, air 90-95 persen, karbohidrat 6,3 gram, protein 0,7 gram, lemak 0,8 gram, kalsium 3,7-120 miligram, fosfor 22-40 miligram, besi 0,1-0,7 miligram, vitamin A 10 IU, dan vitamin C 8 miligram.

Dalam pengobatan tradisional, buah dan daun buni digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, demam, dan infeksi ringan. Kandungan tanin di dalamnya efektif untuk diare. Tanin bekerja mencegah penyerapan zat beracun penyebab diare sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri.

Di Filipina, buah buni—di sana disebut bignay—sudah lama diolah menjadi anggur dan selai. Di Indonesia, cara paling populer adalah dijadikan campuran rujak. Ada pula yang mengolahnya jadi manisan, sirup, atau selai. Daun mudanya kadang dimakan sebagai lalap atau direbus bersama nasi untuk memberi aroma.

Namun kelangkaan mulai mengancam. Di Bandung, RRI melaporkan buah wuni makin susah ditemukan di pekarangan maupun kebun. Hal yang sama terjadi di Bali. Padahal pohon buni kuat. Ia tumbuh baik di lahan kering dan marginal, serta berfungsi sebagai konservasi tanah dan sumber pakan burung.

Di sisi lain, buah buni justru menjadi spesies invasif di Polynesia Prancis. Pohon yang sama diperkenalkan ke sana dan menyebar terlalu cepat, mengancam keanekaragaman hayati lokal. Ironi: di tanah asalnya ia terlupakan, di tempat lain ia dianggap pengganggu.

Meski demikian, para ahli menyarankan konsultasi ke dokter sebelum mengonsumsi buah ini untuk tujuan pengobatan. Penelitian tentang efektivitasnya pada manusia masih terus berlanjut.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 days ago
2 weeks ago
3 weeks ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!