Ilustrasi uang rupiah /Foto: PixabayIndoragamnewscom, JAKARTA-Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 sebesar 151,9 miliar dolar AS. Nilai tersebut mengalami penurunan dibandingkan posisi akhir Januari 2026 yang tercatat 154,6 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan perkembangan itu dipengaruhi sejumlah faktor. Penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah menjadi salah satu penyebabnya.
Di sisi lain, penurunan cadangan devisa juga berkaitan dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
โPosisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,โ kata Ramdan dikutip Sabtu (7/3/2026).

Ia menjelaskan jumlah tersebut masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berkisar tiga bulan impor.
Bank Indonesia menilai tingkat cadangan devisa tersebut masih memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
Ke depan, Bank Indonesia memandang ketahanan sektor eksternal Indonesia akan tetap terjaga. Ramdan mengatakan hal itu didukung cadangan devisa yang kuat serta potensi aliran masuk modal asing seiring persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan tingkat imbal hasil investasi yang dinilai masih menarik.
“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegasnya.






