Daun Bidara dalam Penelitian: Kandungan Kimia dan Manfaat Kesehatan

4 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 12 Mar 2026

Indoragamnewscom-Daun bidara (Ziziphus spina-christi) telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional di berbagai belahan dunia. Kini, berbagai penelitian ilmiah modern membuktikan bahwa tanaman yang disebut dalam Al-Qur’an ini kaya akan senyawa bioaktif dengan beragam khasiat farmakologis, mulai dari antioksidan hingga antikanker.

Tanaman bidara dari genus Ziziphus, famili Rhamnaceae, tumbuh subur di wilayah tropis dan subtropis termasuk Indonesia. Terdapat beberapa jenis bidara yang dikenal masyarakat, namun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi) merupakan jenis yang digunakan Rasulullah SAW di daerah Mekah dan Madinah, serta memiliki kekhasan untuk penanganan gangguan sihir dan jin .

Kandungan Fitokimia Daun Bidara

Penelitian ilmiah mengungkapkan bahwa daun bidara kaya akan berbagai senyawa aktif. Analisis fitokimia terhadap ekstrak etanol 96% daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam.) menunjukkan kandungan flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid.

Studi lain mengkonfirmasi bahwa daun bidara mengandung senyawa flavonoid (rutin, quercetin, kaempferol), fenolik, alkaloid, saponin, tanin, dan triterpenoid .

Anthony C. Dweck, konsultan produk alami untuk industri kosmetik dan farmasi, mengungkapkan komposisi kimia minyak daun bidara (Zizyphus spina-christi) yang diperoleh melalui metode destilasi.

Komponen utamanya meliputi geranyl aseton (14,0 persen), metil hexadecanoate (10,0 persen), metil octadecanoate (9,9 persen), farnesyl aseton C (9,9 persen), hexadecanol (9,7 persen), dan etil octadecanoate (8,0 persen) .

Aktivitas Farmakologis

Berbagai studi menunjukkan spektrum luas aktivitas biologis daun bidara. Uji fitokimia dan DPPH membuktikan bahwa ekstrak daun bidara memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat, bahkan lebih tinggi dibandingkan buah bidara mentah maupun matang. Aktivitas antioksidan ini terutama terkait kandungan fenolik dan flavonoid yang mampu menetralisir radikal bebas penyebab kerusakan sel .

Penelitian lain mengungkapkan perbandingan aktivitas antioksidan ekstrak daun bidara menggunakan pelarut etanol dan n-heksana dengan metode DPPH. Hasilnya menunjukkan nilai IC50 pada ekstrak etanol sebesar 134,54 dan ekstrak n-heksana 221,50, sementara vitamin C sebagai pembanding memiliki IC50 18,4. Semakin kecil nilai IC50, semakin kuat aktivitas antioksidan suatu senyawa.

Daun bidara juga menunjukkan aktivitas antiinflamasi dan analgesik melalui penghambatan mediator inflamasi seperti COX-2, TNF-α, dan IL-6. Aktivitas antibakteri berasal dari senyawa metabolit sekunder yang dapat mengganggu permeabilitas membran sel bakteri, efektif menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Propionibacterium acnes .

Studi farmakologis lainnya mengungkap efek antidiabetes melalui penghambatan aktivitas enzim α-glukosidase, mencegah peningkatan kadar glukosa berlebih. Aktivitas antidiare ditunjukkan melalui kemampuan mengecilkan pori-pori dan selaput lendir usus agar penyerapan air tidak berlebihan.

Penelitian terkini menggunakan teknik GC-MS menemukan bahwa daun bidara mengandung dua jenis senyawa antibiotik serta satu jenis senyawa antidepresan. Bahkan studi in vitro menunjukkan potensi antikanker, di mana senyawa dalam daun bidara dapat menjadi reseptor obat-obatan anti kanker yang menghambat pertumbuhan sel kanker .

Review komprehensif terhadap 186 artikel penelitian mengungkapkan bahwa ekstrak daun bidara signifikan melawan radikal bebas, mikroba, parasit, inflamasi, obesitas, dan kanker. Secara kimia, polifenol dan flavonoid merupakan senyawa paling dominan dengan komposisi 66 senyawa dari total 193 senyawa yang dilaporkan dari berbagai bagian tanaman.

Penggunaan Tradisional di Berbagai Negara

Secara etnofarmakologi, daun bidara telah lama digunakan masyarakat dunia. Di Bahrain, ekstrak tanaman ini digunakan untuk mengobati ketombe, luka, dan kerontokan rambut. Di Palestina, daunnya dimanfaatkan untuk infeksi kulit.
Masyarakat Turki mengandalkan serat buahnya untuk mengatasi sembelit, sementara di Nigeria akar bidara menjadi bahan obat batuk tradisional.

Di Sudan, buah bidara digunakan mengobati diare, rematik, sengatan kalajengking, malaria, dan antispasmodik. Rebusan daun dan buah yang diminum tiga kali sehari dipercaya menurunkan kolesterol dan risiko kanker.

Di Indonesia, daun muda bidara diolah sebagai sayuran, sementara kulit kayunya digunakan menyembuhkan gangguan pencernaan . Daun bidara juga dimanfaatkan untuk proses rukyah sebagaimana diriwayatkan ulama Wahab bin Munabih, dengan cara menumbuk tujuh helai daun hijau, melarutkan dalam air, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian digunakan untuk mandi atau diminum.

Meski berbagai penelitian telah membuktikan khasiat daun bidara, para ilmuwan mengingatkan bahwa keamanan dan efikasi pada manusia belum sepenuhnya dinilai melalui uji klinis. Penelitian lebih lanjut dengan desain uji klinis terkontrol diperlukan untuk menguatkan temuan praklinis serta menetapkan dosis standar dan keamanan penggunaannya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!