Gubernur Jabar Dedi Mulyadi/Foto:Humas Pemprov JabarIndoragamnewscom, BANDUNG-Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak masyarakat menjadikan gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sebagai momentum introspeksi terhadap pola hidup dan kepedulian lingkungan.

Menurutnya, perubahan iklim yang kian nyata harus direspons dengan tindakan nyata menjaga hutan, sumber air, dan kelestarian alam.
“Coba lihat di Eropa, cuaca panas ekstrem. Banyak orang yang meninggal karena tidak kuat menghadapi suhu yang sangat panas,” ujar KDM dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Data menunjukkan dampak gelombang panas di Eropa sangat mematikan. Perancis mencatat lonjakan 2.025 kematian tambahan pada pekan terakhir Juni 2026, meningkat hampir 30 persen dibanding pekan sebelumnya.

Spanyol melaporkan sedikitnya 1.028 kematian akibat panas sepanjang Juni, dua kali lipat dari tahun lalu . Belgia mencatat 1.222 kematian berlebih, sementara Belanda melaporkan sekitar 480 kematian tambahan.
Dedi menjelaskan, sebagian besar rumah di Eropa didesain untuk menghadapi musim dingin sehingga jarang dilengkapi pendingin ruangan. Akibatnya, ketika gelombang panas menerjang, masyarakat kesulitan beradaptasi.
“Rumah-rumah di sana didesain untuk cuaca dingin sehingga jarang menggunakan pendingin ruangan. Akhirnya mereka berebut mencari tempat untuk berenang di sungai dan tempat-tempat yang menyediakan fasilitas pendingin ruangan,” katanya.
Para ilmuwan menyebut perubahan iklim sebagai faktor utama yang memperparah gelombang panas tahun ini. Suhu di Eropa meningkat sekitar dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global sejak 1980-an.
Fenomena kubah panas yang memerangkap udara panas diperkuat oleh emisi gas rumah kaca yang terus meningkat.
“Suhu yang terus berubah dan perubahan iklim yang terjadi diakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat parah,” ujar Dedi.
Karena itu, ia mengajak masyarakat Jawa Barat dan Indonesia menjaga kawasan hutan, sumber air, serta mata air yang masih dimiliki agar tetap lestari. Dedi juga menekankan pentingnya pembangunan hunian yang sesuai dengan karakteristik iklim tropis Indonesia.
Desain rumah yang selaras dengan kondisi lingkungan akan membantu masyarakat lebih siap menghadapi perubahan cuaca tanpa bergantung sepenuhnya pada teknologi pendingin.
“Desain rumah harus disesuaikan dengan rumah kita sebagai bagian dari masyarakat tropis,” ujarnya.
Di akhir pesannya, Dedi mengajak masyarakat menjadikan momentum hari Jumat sebagai pengingat untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan.
Ia mengimbau masyarakat menghindari perilaku yang dapat merusak alam karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh manusia sendiri.
“Semoga pagi hari ini membawa kecerahan dan kebahagiaan serta memberi semangat untuk menjaga diri, keluarga, alam, dan lingkungan. Jangan melakukan tindakan yang berlebihan karena kerusakan yang ditimbulkan hanya akan membawa kesengsaraan bagi orang lain dan kegelisahan bagi pelakunya,” tutup KDM.




