Ilustrasi gorengan dan risiko penyakit kronis seperti kanker, diabetes, dan jantungIndoragamnewscom-Tahu, tempe, atau ayam yang digoreng mungkin terasa lebih lezat ketimbang direbus atau dikukus. Namun, proses penggorengan tak hanya menghilangkan sebagian nilai gizi bahan pangan, tapi juga menyisakan risiko penyakit kronis yang mengintai dalam jangka panjang.

Makanan yang digoreng menyerap lemak dari minyak, menyebabkan lonjakan kalori yang signifikan. Makin tinggi asupan kalori harian, makin besar pula risiko seseorang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Kondisi ini juga berlaku bagi sayuran yang ditumis dengan minyak berlebih.
Kandungan lemak trans dalam gorengan berperan penting dalam penambahan berat badan lantaran memengaruhi kerja hormon yang meningkatkan nafsu makan dan penyimpanan lemak.
Risiko berikutnya adalah penyakit jantung. Obesitas yang dipicu konsumsi gorengan berlebihan merupakan salah satu faktor utama gangguan kardiovaskular.

Minyak goreng mengandung lemak trans yang meningkatkan kadar kolesterol darah, yang kemudian menjadi akar berbagai penyakit seperti jantung koroner, serangan jantung, hingga stroke.
Gorengan juga erat kaitannya dengan diabetes tipe 2. Makanan yang digoreng biasanya dilapisi tepung, sehingga mengandung lebih banyak kalori, karbohidrat, serta lemak tidak sehat.
Terlalu banyak lemak dalam makanan tak hanya memicu penambahan berat badan, tapi juga meningkatkan risiko diabetes pada siapa saja, termasuk anak-anak dan ibu hamil.
Yang tak kalah mengkhawatirkan, bahaya makan gorengan juga memperbesar risiko kanker. Proses memasak dengan suhu tinggi, seperti menggoreng, membentuk zat akrilamida.
Makanan bertepung, seperti kentang goreng atau ayam goreng tepung, mengandung akrilamida lebih tinggi saat terpapar suhu tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, zat ini diduga memicu beberapa jenis kanker, termasuk kanker usus besar dan ovarium.
Di samping itu, lemak trans pada gorengan diketahui meningkatkan jumlah senyawa pendukung peradangan dalam tubuh, yang turut berkontribusi terhadap risiko kanker.
Konsumsi gorengan berlebih juga bisa memperburuk gejala dan memperlambat penyembuhan penyakit saluran pernapasan, seperti radang tenggorokan, batuk, dan bronkitis.
Alternatif Sehat: Minyak Sekali Pakai dan Air Fryer
Mengingat risikonya, membatasi konsumsi gorengan menjadi langkah bijak. Bila masih ingin mengonsumsi makanan yang digoreng, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Pertama, mengganti minyak dengan jenis yang lebih sehat, seperti minyak zaitun, minyak kelapa, dan minyak alpukat. Jenis yang tidak disarankan adalah minyak tinggi asam lemak tak jenuh, seperti minyak kedelai, minyak jagung, minyak kanola, minyak wijen, dan minyak bunga matahari. Yang tak kalah penting, hindari penggunaan minyak secara berulang. Minyak sebaiknya hanya dipakai sekali pakai.
Kedua, perhatikan cara menggoreng. Agar minyak tidak menyerap ke dalam makanan, goreng pada suhu 176–190 derajat Celsius. Suhu terlalu tinggi bisa merusak minyak dan menghasilkan radikal bebas yang buruk bagi kesehatan jangka panjang. Sebaliknya, suhu terlalu rendah justru membuat minyak meresap ke dalam makanan, menjadikannya lebih berlemak. Setelah digoreng, tiriskan makanan dengan tisu kertas untuk menyerap minyak berlebih.
Ketiga, ganti cara memasak. Memanggang bisa menjadi alternatif yang menghasilkan tekstur renyah serupa gorengan. Sebelum memanggang, lapisi makanan dengan bumbu atau rempah agar rasanya lebih lezat. Sebagian besar protein hewani, seperti daging sapi, daging ayam, dan ikan, mengandung lemak alami yang bisa keluar saat dipanaskan di wadah antilengket, sehingga tak perlu menambahkan minyak.
Bila tetap ingin menggoreng, alat penggoreng tanpa minyak atau air fryer bisa menjadi pilihan untuk hidup lebih sehat. Gorengan buatan sendiri juga cenderung lebih sehat karena dapat memilih minyak dan cara menggoreng secara bijak ketimbang membeli di luar.
Makan gorengan sebenarnya bukan tidak boleh sama sekali, melainkan harus dibatasi dan dibarengi dengan makanan sehat serta bergizi seimbang.






