DPR Dorong Penguatan Tata Kelola dan Teknologi Industri Farmasi BUMN

2 menit membaca
Ninding Yulius Permana
News, Politik - 12 Jul 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Anggota Komisi VI DPR RI Sturman Panjaitan mendorong penguatan tata kelola, sumber daya manusia, dan teknologi pada industri farmasi milik negara.

Menurutnya, penguatan aspek-aspek tersebut menjadi kunci agar perusahaan farmasi BUMN mampu tumbuh dan menguasai pasar dalam negeri.

“Kimia Farma, Bio Farma sudah berdiri tahun 1800-an. Artinya kalau itu berkembang secara wajar, sampai dengan tahun 2026, itu harusnya sudah menguasai wilayah Indonesia bahkan ke mancanegara. Tapi faktanya masih sangat terbatas. Inilah perlu manajemen jadi diatur,” ujar Sturman usai kunjungan kerja spesifik Komisi VI ke industri farmasi BUMN di Semarang dikutip Minggu (12/7/2026).

Kunjungan menyoroti tata kelola industri farmasi negara di tengah tingginya ketergantungan pada bahan baku obat impor. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 70-80 persen bahan baku obat atau active pharmaceutical ingredients masih didatangkan dari luar negeri.

Bahkan, Kimia Farma menyebut ketergantungan industri farmasi nasional terhadap impor bahan baku obat mencapai lebih dari 95 persen.

Sturman mengungkapkan keterbatasan penguasaan pasar turut dipengaruhi oleh belum kuatnya penguasaan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia. “Manajemen harus diatur, SDM-nya harus ditingkatkan dan mempunyai teknologi yang canggih. Karena lack of SDM, lack of technology, sehingga akan tidak bisa maju,” jelasnya.

Legislator Dapil Kepulauan Riau itu juga menyoroti tingginya biaya dan panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan baku obat. Proses pengembangan satu produk dapat memakan biaya hingga sekitar Rp1 triliun dengan jangka waktu bertahun-tahun, sehingga membutuhkan dukungan dan keseriusan negara.

Biaya produksi yang tinggi di dalam negeri menjadi faktor utama yang membuat produk farmasi Indonesia sulit bersaing dengan produk impor.

Sementara itu, PT Bio Farma sebagai induk Holding BUMN Farmasi telah merumuskan tiga strategi inisiatif krusial: penyehatan dan restrukturisasi keuangan, reorientasi bisnis di seluruh value chain, serta penguatan fungsi holding sebagai orchestrator dan accelerator.

Kimia Farma sendiri terus memperkuat produksi bahan baku obat dalam negeri dengan mengembangkan 19 bahan baku obat bersertifikat .

Sturman berharap Kimia Farma dan Bio Farma dapat menjadi tulang punggung penyediaan obat nasional sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan luar negeri.

Ia juga mendorong pemerintah memperkuat dukungan riset dan pengembangan bagi industri farmasi agar kemandirian bahan baku obat dapat terwujud secara bertahap.

 

Bagikan Disalin

IKLAN

INSTAGRAM

2 months ago
2 months ago
2 months ago
3 months ago
3 months ago

x
x
CLOSE ADS