Peternak ayam petelur/Foto: IstimewaIndoragamnewscom, JAKARTA-Indonesia mencatat lonjakan ekspor produk unggas pada Maret 2026. Sebanyak 545 ton produk berupa telur konsumsi, daging ayam, serta olahan seperti nugget dan karaage dikirim ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste dengan nilai total Rp18,2 miliar.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan keberhasilan ini merupakan buah dari swasembada protein hewani yang telah dicapai.
Volume ekspor produk unggas pada periode tersebut mencapai 545 ton, didominasi oleh 517 ton telur konsumsi atau setara 8,13 juta butir dari PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang dikirim ke Singapura senilai Rp15,90 miliar . Ekspor dilakukan secara bertahap sepanjang Maret 2026.
Selain telur, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk mengekspor 6 ton produk olahan ayam ke Singapura senilai sekitar Rp1 miliar. PT Taat Indah Bersinar mengirim 22 ton olahan ayam dan karkas ke Timor Leste senilai Rp837 juta. Sementara PT Malindo Food Delight menembus pasar Jepang dengan 6 ton produk olahan seperti nugget dan karaage senilai Rp271,3 juta.

Mentan Amran menegaskan ekspor ini menjadi bukti Indonesia tidak lagi bergantung pada impor ayam. “Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan seterusnya. Ini kita dorong ekspor ke negara-negara lain. Sekarang ada 10 tujuan negara langganan ekspor kita,” ujarnya dalam acara pelepasan ekspor di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan bahwa hilirisasi menjadi kunci peningkatan nilai ekonomi. Produk olahan unggas disebut bisa memiliki nilai dua kali lipat dibandingkan produk mentah. “Inilah tujuan hilirisasi, bahan baku kita olah agar nilainya naik 100 persen bahkan lebih,” kata Amran.
Ekspor produk unggas menunjukkan tren peningkatan konsisten. Pada 2024 tercatat sekitar 300 ton dengan nilai Rp10–11 miliar. Tahun 2025 meningkat menjadi sekitar 400 ton dengan nilai Rp13–15 miliar. Sementara hingga Maret 2026, telah mencapai 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar.
Kinerja ekspor ini ditopang produksi nasional yang kuat. Saat ini, Indonesia mencatat produksi daging ayam ras 4,29 juta ton dengan konsumsi 4,12 juta ton per tahun. Untuk telur ayam ras, produksi mencapai 6,54 juta ton dengan konsumsi 6,47 juta ton. Surplus ini memungkinkan ekspansi pasar tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri.
Kementan terus memperkuat sistem kesehatan hewan, biosekuriti, dan sertifikasi veteriner untuk memastikan produk memenuhi standar internasional. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyatakan pembukaan akses pasar dilakukan melalui diplomasi veteriner yang intensif.
Pemerintah juga tengah membangun ekosistem perunggasan nasional terintegrasi dari hulu hingga hilir. Proyek hilirisasi ayam terintegrasi di 30 lokasi nasional diproyeksikan menghasilkan tambahan produksi 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur per tahun.







Tidak ada komentar