Kopi Senduro dari lereng Gunung Semeru menembus pasar global. Produksi 2025 capai 1.832 ton. Diekspor ke Singapura hingga Dubai/Foto: Media Center LumajangIndoragamnewscom, LUMAJANG-Rifki Medianto memetik buah kopi merah satu per satu di kebunnya, sementara sebagian lain tetap ia biarkan menggantung di ranting.

“Belum waktunya,” katanya singkat. Keputusan itu ia ambil bukan tanpa alasan. Buah yang dipanen terlalu dini akan merusak aroma, rasa, dan kualitas akhir kopi.
Di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, perkebunan kopi rakyat tumbuh di bawah naungan pohon durian, nangka, pisang, manggis, kapulaga, dan vanili. Pola tanam tumpang sari itu telah lama menjadi tradisi petani setempat.
Sistem ini menjaga kelembapan lahan dan kesuburan tanah, sekaligus memberi penghasilan tambahan dari hasil sampingan. Kondisi agroklimat Senduro yang berada di kaki Gunung Semeru dinilai sesuai untuk kopi robusta, menjadikan kawasan ini salah satu sentra kopi di Lumajang.

Setelah panen, buah kopi melalui proses panjang: penjemuran, penggilingan menjadi biji hijau, penyangraian, hingga penghalusan menjadi bubuk. Setiap tahap menuntut ketelitian untuk mempertahankan karakter rasa robusta Senduro . Hasilnya, kopi robusta petik merah dari Senduro memiliki cita rasa yang diakui pasar.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lumajang, Mamik Woroarjiati, menyebut kopi arabika petik merah dari daerah ini bisa menembus harga Rp90.000 per kilogram.
Data dinas setempat mencatat produksi kopi robusta pada 2025 mencapai 1.832,29 ton dari luas areal sekitar 4.003,70 hektare. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 1.458,73 ton. Kabupaten Lumajang sendiri menyumbang 7,83 persen dari total produksi kopi di Jawa Timur.
Rifki mengembangkan Djodog Caffe sebagai ruang edukasi sekaligus hilirisasi produk kopi lokal. Baginya, kopi tidak cukup dipandang sebagai hasil panen. Ia harus diolah, dikemas, dipasarkan, dan diperkenalkan sebagai identitas daerah.
“Harga kopi bisa berubah mengikuti pasar, tetapi kualitas tidak boleh turun. Kepercayaan pembeli dibangun dari mutu yang konsisten,” ujarnya.
Konsistensi itu ia buktikan dengan menolak memetik buah sebelum matang, termasuk ketika harga kopi sedang melonjak. Keuntungan jangka pendek, menurutnya, tidak sebanding dengan kepercayaan pasar yang dibangun bertahun-tahun.
Saat ini, harga kopi kering berada di kisaran Rp65.000 per kilogram, sedangkan kopi basah sekitar Rp10.000 per kilogram. Pada Februari hingga Mei 2026, harga sempat meningkat karena pasokan di tingkat petani berkurang.
“Kalau kopi Senduro murni tanpa campuran beras atau jagung. Penikmat kopi sudah tahu kelebihannya. Yang kami jaga adalah kualitasnya,” kata Rifki.
Produk kelolaannya telah dipasarkan ke Surabaya, Malang, Sidoarjo, Tulungagung, Jakarta, Semarang, Bali, Kalimantan, hingga ke Singapura, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki.
Selain robusta, Rifki mulai mengembangkan kopi liberika yang memiliki karakter rasa dan aroma berbeda. Ia menilai varietas ini berpeluang menjadi pilihan baru bagi pasar kopi.
“Jenisnya berbeda, rasanya berbeda, daunnya juga berbeda. Kendalanya, masih banyak petani yang belum memahaminya, padahal kopi ini sangat dicari para pecinta kopi,” ungkapnya.
Masa depan kopi Senduro, menurut Rifki, tidak hanya ditentukan oleh luas kebun atau harga jual. Kemauan petani untuk belajar, berinovasi, dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi kopi semakin dirasakan masyarakat.
Di ruang pengolahan Djodog Caffe, biji kopi kering disangrai hingga berwarna cokelat tua. Aroma robusta keluar sebelum biji digiling dan siap diseduh.
Menjelang siang, kabut di lereng Semeru mulai terangkat. Aktivitas di kebun kopi tetap berlangsung. Buah merah dipilih dengan kesabaran. Buah yang belum matang dibiarkan tumbuh hingga waktunya tiba.
Dari ketelitian itu, kopi Senduro menjadi kepercayaan yang dirawat dari kebun di kaki gunung, lalu dikirim ke berbagai penjuru dalam setiap cangkir yang tersaji.




