Bledug Kuwu di Grobogan, fenomena gunung lumpur asin dengan letupan setiap 2-3 menit. Wisatawan menyebutnya miniatur Salt Lake. Legenda Joko Linglung dan produksi garam tradisional/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, tanah berbunyi. Bukan gempa, tapi letupan lumpur dari perut bumi yang terjadi secara periodik, sepanjang hari, tanpa henti.

Fenomena ini bernama Bledug Kuwu—dari kata “bledug” dalam bahasa Jawa yang berarti letupan seperti suara meriam dari kejauhan. Secara ilmiah, ini adalah gunung api lumpur (mud volcano), satu-satunya di Jawa Tengah. Gas metana dari dalam teras bumi mendorong lumpur ke permukaan, melontarkannya hingga dua meter ke udara setiap dua hingga tiga menit.
Garam dari Perut Bumi
Yang membuat Bledug Kuwu istimewa: lumpurnya asin. Padahal lokasinya jauh dari laut. Penjelasan geologisnya sederhana: ribuan tahun lalu, dataran Kuwu adalah dasar lautan. Proses pengangkatan kerak bumi mengubahnya menjadi daratan, tapi endapan garam tetap tersimpan di bawah.

Saat gas mendorong lumpur ke permukaan, larutan garam ikut terangkat. Warga setempat memanfaatkannya untuk membuat bleng—konsentrat garam yang dipakai untuk pembuatan kerupuk karak. Produksi garam dari Bledug Kuwu sudah berlangsung turun-temurun, bahkan sejak era kolonial Belanda pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan aturan khusus tentang monopoli garam dari wilayah ini.
Prosesnya tradisional: air asin hasil penyaringan lumpur ditampung, lalu dikeringkan di bilah-bilah bambu. Jika panas terik, bisa seminggu dua minggu panen.
Legenda Joko Linglung dan Naga dari Laut Selatan
Masyarakat setempat punya cerita lain tentang asal-usul rasa asin ini. Konon, Bledug Kuwu adalah lubang yang menghubungkan desa itu dengan Laut Selatan . Lubang itu tercipta dari perjalanan pulang Joko Linglung—seorang pemuda sakti yang bisa berubah wujud menjadi ular naga.
Ceritanya bermula dari Prabu Dewata Cengkar, raja Medang Kamulan yang kejam. Ia suka makan manusia. Setiap desa wajib menyetor satu orang sebagai pajak. Aji Saka, seorang pendatang dari Tibet, menggulingkannya. Dewata Cengkar melarikan diri ke Laut Selatan dan berubah menjadi buaya putih.
Aji Saka kemudian mengutus anak angkatnya, Joko Linglung, yang berwujud naga, untuk menuntaskan. Sebelum berangkat, Aji Saka berpesan: jika menang, Joko Linglung harus pulang melalui perut bumi—bukan jalan darat—agar rakyat tidak melihat wujudnya yang menakutkan .
Joko Linglung berhasil mengalahkan buaya putih itu. Ia pun pulang menembus tanah. Di beberapa tempat ia muncul ke permukaan karena mengira sudah sampai. Di Desa Kuwu, ia cukup lama keluar, sehingga lubang itu terus mengeluarkan letupan. Air laut yang ikut terperangkap di perut bumi membuat semburannya terasa asin.
Tiga Titik Letupan dengan Nama Sendiri
Secara kasat mata, ada tiga titik semburan aktif di kawasan seluas 45 hektar ini. Masing-masing punya nama:
Joko Tuwa, letupan terbesar di tengah, bunyinya paling keras dengan tinggi semburan 5-10 meter, frekuensi 4-5 kali per menit. Roro Denok, letupan kecil dengan bunyi lebih lemah, tinggi hanya 1-2 meter. Ada juga titik ketiga yang disebut Joko Pilu.
Wisatawan bisa mendekati pusat semburan hingga jarak 50-100 meter di musim kemarau. Tapi hati-hati: tanah di sekitarnya goyang-goyang. Lapisan padatnya tipis. Di musim hujan, hampir seluruh area berubah menjadi kolam lumpur raksasa.
Tiket masuknya Rp3.000 per orang. Parkir motor Rp2.000 [10]. Dari Purwodadi, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dengan pemandangan hamparan sawah hijau dan bukit-bukit.






