Proyek Strategis Nasional (PSN) Onshore LNG Abadi Blok Masela/Foto: IstimewaIndoragamnewscom, JAKARTA-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menginstruksikan percepatan target produksi (onstream) Proyek Strategis Nasional (PSN) Onshore LNG Abadi Blok Masela menjadi tahun 2029. Target ambisius tersebut dipatok lebih awal dibandingkan proyeksi operator yang sebelumnya berada pada rentang 2030–2031.

Guna merealisasikan hal tersebut, pemerintah berkomitmen memangkas hambatan birokrasi lintas sektoral melalui mekanisme debottlenecking terpadu. Purbaya menengarai bahwa akselerasi proyek ini sangat krusial bagi ketahanan energi nasional serta pertumbuhan ekonomi regional di wilayah timur Indonesia.
“Mereka bilang kan 2030–2031 baru onstream. Saya sih kalau bisa (Blok Masela) 2029 atau sebelum 2029 sudah kelihatan lah bangunannya, jadi gasnya sudah berproduksi, jadi kita akan percepat semaksimal mungkin,” ujar Purbaya dikutip pada Kamis (26/2/2026).
Adapun untuk menjamin kelancaran investasi, Kementerian Keuangan bakal membentuk tim khusus (special task force) yang memposisikan Inpex Masela Ltd beserta konsorsiumnya sebagai investor prioritas.

Melalui skema ini, setiap kendala perizinan akan diselesaikan secara kolektif dengan memanggil pimpinan kementerian terkait dalam satu meja koordinasi.
Kendati mendorong percepatan, pemerintah menyatakan bakal bersikap realistis ihwal pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada proyek ini. Purbaya menegaskan bahwa aspek keamanan dan keselamatan kerja tetap menjadi prioritas absolut mengingat karakteristik teknis lapangan gas laut dalam yang berisiko tinggi.
“Kalau memang di dalam negeri enggak ada, ya sudah ke luar negeri. Dan kalau di dalam negeri memang belum mampu, karena ini skala besar. Kalau field gas itu elemen keamanannya amat tinggi. Salah sedikit itu meledak,” katanya.
Sementara itu, keterlibatan vendor mancanegara tetap dimungkinkan sejauh industri domestik belum mampu memenuhi standar spesifikasi teknis yang dipersyaratkan.
Lapangan Abadi Blok Masela sendiri memiliki cadangan gas terbukti mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) dengan estimasi nilai investasi sebesar US$ 20,94 miliar.
Saat ini, hak partisipasi proyek dikuasai oleh Inpex Masela Ltd sebesar 65 persen, disusul PT Pertamina Hulu Energi Masela 20 persen, dan Petronas Masela Berhad 15 persen. Proyek ini diproyeksikan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun serta 150 MMSCFD gas pipa.
Diskursus mengenai percepatan onstream ini sebelumnya terus bergulir seiring dengan upaya pemerintah dalam mengoptimalkan potensi migas guna menekan defisit neraca perdagangan energi.






