Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu untuk mendorong aktivasi situs sejarah/Foto: Humas Kementerian KebudayaanIndoragamnewscom, JAKARTA-Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat fungsi situs sejarah sebagai ruang edukasi dan aktivasi kebudayaan nasional saat meninjau Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu.

Langkah ini merupakan bagian dari diskursus kementerian dalam mentransformasi cagar budaya peringkat nasional agar tidak sekadar menjadi artefak seremonial, melainkan menjadi pusat pembelajaran aktif bagi generasi muda. Ihwal urgensi situs tersebut, Fadli menengarai bahwa lokasi pengasingan para pendiri bangsa menyimpan nilai historis yang krusial bagi fondasi intelektual kemerdekaan Indonesia.
“Para pendiri bangsa kita mengalami pengasingan di berbagai daerah. Bung Karno di Ende dan Bengkulu. Bung Hatta dari Digul ke Banda Naira. Bung Syahrir juga dari Digul ke Banda Naira, kemudian dipindahkan ke Sukabumi. Tempat-tempat ini menjadi saksi hidup perjuangan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” ujar Menteri Kebudayaan pada Kamis (26/02/2026).
Adapun selama masa pengasingan di Bengkulu pada medio 1938–1942, terdapat bukti otentik aktivitas intelektual Bung Karno melalui koleksi naskah sandiwara Monte Carlo dan literatur bacaan lainnya yang hingga kini tersimpan di situs tersebut.

Kendati telah berstatus sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional, optimalisasi fasilitas penunjang dipandang perlu untuk meningkatkan daya tarik kunjungan. Sementara itu, rencana pengembangan mencakup penyelenggaraan kegiatan seni, diskusi kebudayaan, hingga penyediaan ruang baca yang terintegrasi dengan aspek kuliner tradisional setempat.
Integrasi ini diharapkan mampu memicu minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mendalami narasi sejarah nasional.
“Kita berharap semakin banyak generasi muda yang datang dan belajar dari tempat ini. Situs ini telah ditata dengan baik, dan ke depan perlu terus diaktifkan melalui kegiatan-kegiatan budaya,” tutur Fadli.
Di sisi lain, kunjungan kerja ini juga menyoroti peran strategis Bengkulu sebagai lokasi pertemuan Bung Karno dengan Ibu Fatmawati yang memiliki andil besar dalam penjahitan Bendera Pusaka.
Dalam peninjauan tersebut, hadir mendampingi Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan serta jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu.
Ekspedisi budaya ini menjadi latar belakang penting bagi kementerian dalam merumuskan kebijakan pelestarian yang mengedepankan aspek fungsionalitas bangunan bersejarah di berbagai wilayah di Indonesia.







Tidak ada komentar