Novita Hardini Dorong Perempuan Kelola Sampah Organik Menjadi Solusi Kelangkaan Pupuk

2 menit membaca
Ninding Yulius Permana
News, Politik - 14 Feb 2026

Indoragamnewscom, TRENGGALEK-Langkah strategis diambil Anggota DPR RI Novita Hardini dalam menyikapi mahalnya harga nutrisi tanaman bagi petani kecil dengan menggerakkan sektor domestik.
Legislator ini mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk mengonversi limbah dapur menjadi pupuk kompos mandiri sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga di tengah keterbatasan pasokan pupuk subsidi.

Melalui pemberdayaan perempuan di akar rumput, masalah pencemaran lingkungan akibat penumpukan sampah organik dapat dialihkan menjadi sumber ekonomi baru.

Inisiatif ini juga diproyeksikan untuk mengakselerasi target pemerintah daerah dalam mencapai ekosistem rendah karbon melalui pengelolaan limbah yang berkesinambungan.

Dalam kunjungannya ke KWT Desa Munjungan, Kecamatan Munjungan, Kamis (12/2/2026), Novita Hardini menegaskan bahwa peran perempuan sangat krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.

Pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya sayur dan buah dinilai efektif menekan biaya pengeluaran harian masyarakat desa.

“Di satu sisi pupuk sulit dan mahal, di sisi lain sampah organik melimpah dan mencemari lingkungan. Jika dikelola dengan baik oleh KWT, ini bisa menjadi solusi yang berkelanjutan,” ujar Novita Hardini.

Pengolahan limbah menjadi kompos ini diharapkan mampu memutus ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang harganya terus melonjak. Dengan demikian, KWT tidak hanya berperan sebagai konsumen pangan, tetapi juga produsen sarana produksi pertanian yang mandiri.

Pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga menjadi bagian penting dari peta jalan Pemerintah Kabupaten Trenggalek menuju status Net Zero Carbon. Novita Hardini menginstruksikan agar setiap limbah organik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir, melainkan diolah kembali menjadi produk bermanfaat.

“Kita dukung target Net Zero Carbon dengan memberdayakan KWT. Sampah organik harus diolah, bukan dibuang. Ini tentang membangun ekosistem yang berkesinambungan,” tegas politisi fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Pengawasan ketat juga diarahkan pada limbah yang dihasilkan oleh industri padat karya serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hal ini bertujuan agar aktivitas ekonomi dan program pemenuhan gizi tetap berjalan beriringan dengan standar kelestarian lingkungan hidup.

Sebagai Ketua PKK Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini mengaktifkan peran struktural Ketua Tim Penggerak PKK di tiap kecamatan untuk bertindak sebagai “ibu asuh”.

Tugas mereka adalah memastikan gerakan pengolahan limbah dapur menjadi pupuk atau pakan berjalan masif dan memberikan nilai tambah secara finansial bagi para anggota KWT.

Novita meyakini bahwa kemandirian desa dapat tercapai apabila perempuan memiliki akses dan pengetahuan yang cukup dalam mengelola sumber daya di sekitarnya.

Transformasi limbah menjadi komoditas ekonomi merupakan langkah konkret dalam membangun desa yang tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim.

“Pemberdayaan perempuan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang membangun desa yang mandiri, tangguh, dan ramah lingkungan,” tutupnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!