Josimar José Évora Dias/Vozinha (40Tahun) dinobatkan menjadi Man of The Match /Foto: IstimewaIndoragamnewscom-Dia sudah berusia 40 tahun. Tapi di bawah mistar gawang Atlanta Stadium, Vozinha bergerak seperti pemuda.

Tujuh penyelamatan krusial ia lakukan. Salah satunya pada menit ke-39, menggagalkan sundulan Marc Cucurella, lalu tembakan Ferran Torres yang membentur mistar, dan sundulan Mikel Oyarzabal—semua dalam satu serangan.
Spanyol menguasai 74 persen bola, melepas 23 tembakan dengan delapan tepat sasaran, 764 operan dengan akurasi 92 persen, 11 tendangan sudut. Tanjung Verde, tim debutan berpenduduk 530 ribu jiwa, hanya mencatat enam tembakan (satu tepat sasaran) dan 275 operan dengan akurasi 74 persen.
Tapi, sepak bola tak selalu soal angka. Kokohnya pertahanan Tanjung Verde yang dipimpin Vozinha menjadi faktor utama. Kiper kelahiran 3 Juni 1986 yang memperkuat klub G.D. Chaves itu berulang kali menggagalkan peluang emas para pemain Spanyol.

“Saya sangat bangga menjadi pemain terbaik pertandingan,” kata Vozinha usai laga, dikutip The Athletic. “Ini adalah pesan terima kasih untuk semua orang di Cape Verde”.
Penampilan gemilangnya membuat gelandang Spanyol Pablo Gavi frustrasi. Lamine Yamal, yang masuk menggantikan rekan setimnya pada menit ke-71, juga tak mampu memecah kebuntuan hingga peluit panjang dibunyikan.
Setelah laga, Vozinha menangis di lapangan. Ia teringat kakek dan nenek yang membesarkannya, keduanya telah tiada. Ibunya juga tak bisa hadir di Atlanta, terhalang visa dan biaya.
Atas penampilan heroiknya, Vozinha dinobatkan sebagai Man of the Match. Satu poin dari laga melawan Spanyol menjadi modal berharga bagi Tanjung Verde dalam debut mereka di panggung terbesar sepak bola dunia.






