Gubenrnur Jawa Barat, Dedi Mulyadi/Foto:Humas Pemkab IndramayuIndoragamnewscom, JAKARTA-Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti tajam lambannya respons warga dan aparat lingkungan dalam menangani korban pengeroyokan di Cianjur yang berujung kematian. Ia bahkan melontarkan sindiran perihal perbedaan perlakuan jika korban berasal dari kalangan berada.

Seorang pria paruh baya berinisial MI (56) di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, meninggal dunia setelah dianiaya massa karena diduga mencuri dua buah labu. Peristiwa ini memantik refleksi tentang kemiskinan, empati sosial, serta respons cepat terhadap warga yang membutuhkan pertolongan.
Dedi Mulyadi secara terbuka menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menyoroti lambatnya respons aparat lingkungan seperti RT, RW, hingga perangkat desa yang dinilai tidak sigap menangani korban setelah penganiayaan terjadi. Menurutnya, dalam struktur kehidupan masyarakat desa, informasi mengenai peristiwa kekerasan seharusnya cepat menyebar.
“Kalau ada orang digebukin di kampung, seharusnya Pak RT tahu, Pak RW tahu, kepala dusun juga tahu. Langkah pertama yang dilakukan adalah membawa ke rumah sakit,” ujar Dedi Mulyadi dikutip dari kanal YouTube pribadinya, Sabtu (7/3/2026).

Ia menegaskan bahwa keselamatan nyawa manusia harus menjadi prioritas utama dibanding urusan administratif dalam situasi darurat. Persoalan jaminan kesehatan seperti BPJS, menurutnya, tidak boleh menjadi penghalang untuk memberikan pertolongan medis bagi korban luka berat.
“Kalau sudah luka parah, jangan bicara BPJS dulu. Masukkan saja ke rumah sakit. Nyawa orang harus diselamatkan dulu,” ucap Dedi dengan nada tegas.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga melontarkan sindiran tajam mengenai kemungkinan adanya perlakuan berbeda dalam penanganan korban kekerasan. Ia menduga jika korban berasal dari kalangan berada atau keluarga pejabat, respons warga dan aparat akan jauh lebih cepat.
“Jangan sampai karena orang miskin lalu dianggap biasa ketika digebuki. Kalau yang dipukul anak pejabat atau orang kaya, mungkin semua langsung bergerak,” jelasnya.
Dedi mengaku merasa terpukul dan menyesali peristiwa yang menimpa warga Cianjur tersebut. Ia menyesalkan bahwa nyawa korban kemungkinan masih bisa diselamatkan jika sejak awal mendapatkan pertolongan medis secara cepat.
“Saya sebagai gubernur merasa sangat menyesal. Bahkan merasa berdosa ada nyawa yang mungkin tidak bisa diselamatkan karena tidak segera dibawa ke rumah sakit,” tuturnya.
Peristiwa tragis ini tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius mengenai kepekaan sosial masyarakat serta peran perangkat lingkungan dalam situasi darurat yang menentukan hidup atau mati seseorang.






