Pura di Kaki Gunung Salak, Penghormatan Terakhir untuk Prabu Siliwangi

3 menit membaca
Fazar Eka
News, Wisata - 19 Mar 2026

Indoragamnewscom-Di ketinggian 780 meter di atas permukaan laut, tersembunyi sebuah tempat ibadah yang menjadi salah satu pura termegah di Indonesia.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, yang terletak di Kampung Warungloa, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, berdiri sebagai simbol penghormatan umat Hindu kepada leluhur sekaligus destinasi religi yang semakin populer.

Pura ini menempati urutan kedua sebagai pura terbesar di Indonesia setelah Pura Besakih di Bali.

Gagasan pendirian pura berawal dari kerinduan sekelompok umat Hindu akan sebuah pelinggih, tempat beribadah dan meditasi yang hening serta jauh dari hiruk-pikuk.

Hasrat itu menguat hingga berkembang menjadi cita-cita membangun pura besar. Pembangunan dimulai pada 1995, ditandai dengan pendirian candi di lokasi yang diyakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi, raja besar dari era keemasan Kerajaan Hindu Pajajaran.

Selama proses pengerjaan, tempat ini dikenal dengan nama Penataran Agung Gunung Salak.

Setelah sepuluh tahun melalui proses gotong royong umat Hindu Nusantara, pura ini diresmikan pada 2005 dengan nama Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.

Nama itu mengandung filosofi yang dalam: Jagatkartta diambil dari gelar Sang Hyang Widhi Wasa saat menciptakan alam semesta dan menurunkan ajaran Catur Veda. Parahyangan berarti tempat para Hyang, agung bermakna besar atau mulia, Jagat berarti bumi, dan Kartta berarti lahir.

Secara harfiah, nama ini dimaknai sebagai pura di tempat indah untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Agung . Nama Tamansari sendiri merujuk pada lokasinya di Kecamatan Tamansari, Bogor .

Pemilihan lokasi pura bukan tanpa sebab. Kawasan ini diyakini sebagai area sakral tempat Kerajaan Pakuan Pajajaran, kerajaan Hindu terakhir di Tanah Sunda, pernah berdiri.

Lebih dari itu, legenda menyebut tempat ini sebagai lokasi moksa-nya Prabu Siliwangi bersama para prajuritnya. Bahkan, rumor yang beredar di kalangan pengelola menyebutkan bahwa pembangunan pura ini diawali oleh wangsit gaib—sebuah panggilan spiritual dalam mimpi yang meminta agar sebuah pura didirikan di titik tersebut.

Rangkaian upacara Ngenteg Linggih, yang menandai diresmikannya pura sebagai tempat ibadah, digelar pada 19 Agustus 2005 bertepatan dengan Purnama Karo. Puncak upacaranya berlangsung sebulan kemudian, tepatnya 19 September 2005.
Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar, kompleks pura ini dilengkapi berbagai bangunan, antara lain Padmasana di area utama, Candi, Bale Pesamuan Agung, serta Pura Melanting dan Pura Pasar Agung yang digunakan untuk menyucikan persembahan.

Memasuki kawasan pura, pengunjung akan merasakan kesejukan khas pegunungan yang dilindungi rindangnya pepohonan di kawasan Taman Nasional Gunung Salak.

Namun, ada aturan yang harus dipatuhi: pengunjung diwajibkan mengenakan kain yang diikatkan di pinggang, melepas alas kaki, serta menjaga kesunyian.

Area utama pura, tempat berlangsungnya ritual sembahyang, hanya boleh dimasuki oleh umat Hindu yang hendak beribadah. Sementara itu, wisatawan umum hanya diperkenankan memasuki pelataran luar.

Seiring waktu, fungsi pura ini melebar. Tidak hanya menjadi pusat peribadatan umat Hindu, khususnya yang bermukim di wilayah Jabodetabek, Pura Parahyangan Agung Jagatkartta juga bertransformasi menjadi tujuan wisata religi .
Pengunjung dari berbagai latar belakang agama datang untuk menikmati ketenangan, keindahan arsitektur bernuansa Sunda dan Bali, serta pemandangan Gunung Salak yang megah.

Pemerintah Kabupaten Bogor mencatat pura ini buka 24 jam, meski untuk kunjungan umum disarankan antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB .

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!