Rizal Mallarangeng saat mengisi Materi Pelatihan Jurnalis Telkom di Warung Bendega, Bali, Jumat (5/2/2026)/Foto: Divi/IndoragamnewscomIndoragamnewscom, DENPASAR-Komisaris PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Rizal Mallarangeng menilai Telkom layak dijadikan contoh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mampu bertahan dan tumbuh di tengah gelombang disrupsi teknologi sekaligus perubahan arah kebijakan pemerintah terkait perampingan jumlah perusahaan pelat merah.

Menurut Rizal, dari lebih dari 1.000 BUMN yang ada saat ini, lebih dari separuh mengalami kerugian dan justru menjadi beban bagi perekonomian. Kontribusi BUMN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 9 persen, tetapi nilai tambah yang dihasilkan hanya sekitar 5 persen.
Karena itu, pemerintah mendorong agar jumlah BUMN ke depan dirampingkan menjadi sekitar 300 perusahaan dengan fokus pada kualitas dan kinerja.
“Ke depan yang paling penting adalah swasta berkembang. Pemerintah memberi booster dan menciptakan regulasi yang sehat, terbuka, dan ramah,” ujar Rizal.

Telkom Beroperasi di Sektor Paling Terdampak Disrupsi
Dalam konteks tersebut, Telkom dinilai sebagai kasus khusus di antara BUMN lain. Rizal menilai perusahaan telekomunikasi ini beroperasi di sektor dengan tingkat disrupsi paling tinggi, yakni teknologi informasi dan komunikasi yang berubah sangat cepat dalam 30–40 tahun terakhir.
Berbeda dengan BUMN lain seperti PLN yang relatif stabil dari sisi teknologi atau Pertamina yang memiliki karakter semi-monopoli, Telkom harus terus beradaptasi.
Perubahan itu terlihat mulai dari peralihan kabel tembaga ke serat optik, transformasi layanan digital, hingga persaingan dengan pemain global seperti WhatsApp, Google, dan Facebook.
Kinerja Tumbuh di Atas Rata-rata Ekonomi Nasional
Di tengah tekanan industri, Telkom mencatatkan kinerja yang tetap positif. Saat ini perusahaan membukukan pendapatan sekitar Rp157 triliun dengan laba bersih mencapai Rp23 triliun. Pertumbuhannya berada di kisaran 7–8 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang rata-rata sekitar 5 persen.
Rizal menilai keberhasilan ini tidak terlepas dari kemampuan Telkom membaca perubahan zaman dan beradaptasi secara konsisten. Ia mencontohkan sejumlah BUMN di masa lalu, seperti Merpati, yang tidak mampu mengimbangi perubahan industri sehingga tertinggal dari pemain swasta.
Strategi Kolaborasi Hadapi Teknologi Baru
Menghadapi tantangan baru seperti kehadiran teknologi satelit orbit rendah Starlink, Telkom memilih pendekatan kolaboratif. Melalui kerja sama dengan Starlink, Telkom mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp850 miliar dalam dua tahun terakhir tanpa belanja modal karena seluruh infrastruktur disediakan oleh SpaceX.
“Kerja sama ini penting agar Telkom bisa memantau dan mempelajari perkembangan teknologi, termasuk potensi konektivitas langsung dari ponsel ke satelit di masa depan,” kata Rizal.
Perkuat Data Center dan Infrastruktur Menara
Selain itu, Telkom juga memperkuat bisnis data center dan infrastruktur menara telekomunikasi sebagai penopang pertumbuhan jangka panjang. Saat ini Telkom memiliki data center berkapasitas 75 MW di Cikarang serta fasilitas di Singapura.
Di sektor infrastruktur, Telkom melalui Mitratel menguasai sekitar 30 persen tower telekomunikasi di Indonesia dengan total lebih dari 40 ribu menara.
Tantangan 10 Tahun ke Depan
Rizal menegaskan, tantangan terbesar Telkom ke depan adalah mempertahankan posisinya sebagai BUMN unggulan dalam satu dekade mendatang. Adaptasi terhadap perubahan teknologi dinilai menjadi kunci agar perusahaan tetap relevan di tengah kompetisi global.
“Telkom tidak boleh berhenti tumbuh dan harus terus mengikuti dinamika zaman,” pungkasnya.






