9 Tahun Tukad Bindu: Saat Komunitas Bergerak, Sampah Tak Lagi Bisa DisembunyikanIndoragamnewscom, DENPASAR-Di tengah krisis sampah yang kian nyata di Bali, Yayasan Tukad Bindu justru memilih merayakan ulang tahunnya yang ke-9 dengan cara sederhana yakni syukuran. Tanpa gemerlap, tanpa seremoni berlebihan hanya komitmen yang tetap menyala.

Di sela perayaan syukuran tersebut, Ketua Yayasan Tukad Bindu, Ida Bagus Made Ari Manik menyebut usia sembilan tahun bukan sekadar angka. Ini adalah bukti bahwa menjaga sungai bukan wacana, melainkan kerja panjang yang terus dijaga konsistensinya.
“Perayaan ini sederhana, karena yang terpenting bukan acaranya, tapi komitmen kami yang tidak pernah berubah sejak awal, menjaga lingkungan, terutama sungai,โ tegas Ida Bagus Ari Manik kepada Indoragam di Denpasar, Minggu (29/3/2026).
Namun di balik kesederhanaan itu, ada pesan keras yang disampaikan. Bahwa ketika sebagian masih sibuk membicarakan solusi, komunitas seperti Tukad Bindu sudah lebih dulu bekerja. Acara tersebut turut dihadiri Ni Putu Putri Koster yang datang langsung memberi dukungan.

Dalam momen itu, Tukad Bindu memberikan apresiasi kepada para pegiat lingkungan dari Denpasar hingga seluruh Bali. Menurutnya, mereka yang bekerja tanpa sorotan, tapi berdampak nyata.
Tukad Bindu juga telah membina sekitar 20 komunitas lingkungan di Bali. Sebuah gerakan senyap, namun terus meluas, menumbuhkan kesadaran dari bawa dab dari masyarakat itu sendiri.
“Yang kami kejar bukan hanya kegiatan, tapi penerus. Kalau generasi muda tidak ikut bergerak, maka masalah ini tidak akan pernah selesai,โ tegasnya.
Sementara itu, Ni Putu Putri Koster melontarkan kritik tajam terhadap pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah.
Ia mengingatkan bahwa Bali sebenarnya sudah memiliki aturan jelas melalui Pergub Nomor 47 Tahun 2019 tentang pengelolaan sampah berbasis sumber. Bahwa, sumber masalahnya bukan pada aturan melainkan pada kebiasaan dalam diri masyarakat itu sendiri.
โSelama puluhan tahun kita dimanjakan. Kita bebas membuat sampah, lalu merasa selesai hanya karena membayar iuran. Tapi kita tidak pernah benar-benar peduli ke mana sampah itu pergi,โ ujarnya dengan tegas.
Akibatnya, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung menjadi simbol kegagalan bersama.
Sampah yang seharusnya dipilah dari sumber justru bercampur kembali di ujungnya. Ironisnya, edukasi sudah dilakukan, aturan sudah dibuat, namun praktik di lapangan masih jauh dari harapan.
Sampah yang dipilah di rumah, kembali menjadi satu saat diangkut seolah semua upaya itu sia-sia. Bahkan sejak pembatasan plastik sekali pakai diberlakukan pada 2019, kebiasaan lama belum benar-benar hilang. Plastik tidak lagi dipakai untuk belanja, tapi justru berubah fungsi menjadi pembungkus sampah yang akhirnya menumpuk di TPA.
Untuk diketahui, pada titik itulah Tukad Bindu berdiri bukan sekadar komunitas, tapi pengingat bahwa perubahan tidak bisa ditunda. Usia sembilan tahun berjalan, mereka membuktikan satu hal: lingkungan tidak butuh janji, tapi aksi.






