KAI targetkan 18.297 pegawai bersertifikasi pada 2026, meliputi pengatur jalan hingga petugas perawatan rel. Jumlah ini meningkat pesat dalam empat tahun terakhir/Foto: IstimewaIndoragamnewscom, JAKARTA-PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus memperkuat kompetensi sumber daya manusia dan sistem operasional untuk menjaga perjalanan yang aman bagi jutaan pelanggan.

Setiap perjalanan yang tepat waktu dan presisi ternyata melibatkan ribuan insan dari berbagai bidang kerja, mulai dari awak sarana, pengatur perjalanan (PPKA), pengendali perjalanan, petugas pemeriksa jalur, tenaga perawatan sarana dan prasarana, hingga penjaga perlintasan (PJL).
Vice President Corporate Communication PT KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa proses sertifikasi ini merupakan bagian dari standar wajib.
“Kereta api merupakan moda transportasi yang memiliki sistem operasional sangat detail. Setiap petugas memegang peran penting dan seluruh proses harus berjalan presisi,” ujar Anne dalam siaran pers, Kamis (7/5/2026).

Dalam kurun waktu 2022 hingga 2025, jumlah pekerja tersertifikasi KAI terus meningkat signifikan. Data menunjukkan, pada 2022 tercatat lebih dari 14.150 pekerja, naik menjadi 15.983 pekerja pada 2023, lalu 16.186 pada 2024, dan melonjak menjadi 19.167 pada 2025.
Target tahun 2026 adalah 18.297 pekerja tersertifikasi yang tersebar di berbagai bidang operasional strategis. Rinciannya terdiri dari 4.129 Awak Sarana Perkeretaapian (ASP), 440 Awak Sarana Perkeretaapian Khusus, 2.260 PPKA, 229 Pengendali Kereta Api, dan 1.542 Asisten PPKA.
Selain itu, KAI juga akan menyertifikasi 1.482 tenaga perawatan prasarana bidang jalan rel dan jembatan, 1.437 tenaga perawatan fasilitas operasi, 1.854 pemeriksa prasarana, 2.652 pemeriksa sarana, 1.990 tenaga perawatan sarana, serta 163 Penjaga Jaga Lintas (PJL).
KAI mewajibkan setiap pekerja operasional melalui proses pendidikan, pelatihan, uji kompetensi, hingga sertifikasi dari lembaga berwenang, termasuk Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Dalam operasional kereta api, keputusan yang diambil petugas harus cepat, tepat, dan sesuai prosedur. Proses pembentukan kompetensi dilakukan secara berkelanjutan,” kata Anne.
Untuk memonitor keselamatan, KAI memanfaatkan aplikasi Safety Railway Information (SRI) yang memungkinkan setiap pegawai melaporkan potensi bahaya. Laporan kemudian ditindaklanjuti untuk proses mitigasi risiko internal.
Di sisi eksternal, KAI mengakui tantangan berat masih datang dari ketidakdisiplinan pengguna jalan di perlintasan sebidang, pelemparan terhadap kereta, pencurian aset, bangunan liar di sekitar jalur, hingga faktor cuaca dan alam seperti banjir, longsor, dan gempa.
“Setiap perjalanan kereta api yang berjalan aman sesungguhnya dijaga oleh banyak insan yang bekerja penuh disiplin selama 24 jam. Keselamatan dibangun dari ketelitian, kepatuhan terhadap prosedur, kompetensi SDM, serta kolaborasi bersama stakeholder dan masyarakat,” tutup Anne.







Tidak ada komentar