Pulau Debi dan Kampung Enggros: Jejak Awal Peradaban Jayapura

2 menit membaca
Evan Permana
News, Wisata - 22 Jun 2026

Indoragamnewscom-Leluhur penduduk asli Jayapura tidak berasal dari kota yang kini dikenal sebagai ibu kota Papua. Tempat asal mereka berada di sebuah teluk, sekitar 20 menit berkendara dari pusat kota menuju arah Abepura.

Teluk itu bernama Youtefa. Di tengahnya terdapat Pulau Debi—dalam bahasa setempat berarti “pulau cantik”—yang menjadi saksi awal mula peradaban di Tanah Tabi.

Perjalanan menuju pulau ini dimulai dari pelabuhan kecil di Pasar Youtefa. Dengan perahu motor, waktu tempuh hanya sekitar 10 menit dengan biaya sewa Rp10.000.

Pulau Debi menyimpan dua lapis sejarah. Di satu sisi, sebuah tugu peringatan berdiri megah menandai tempat para misionaris Kristen menginjakkan kaki pertama kali di wilayah Jayapura. Mereka adalah kelompok yang sebelumnya telah menyebarkan ajaran di Pulau Mansinam, Manokwari.

Di sisi lain, pulau ini menjadi pusat kegiatan dua kampung tertua di Tanah Tabi: Tobati dan Enggros. Kampung Tobati menempel di wilayah pantai Hamadi. Sementara Enggros berada di tengah laut Teluk Youtefa, terhubung dengan Pulau Debi melalui jembatan kayu.

“Sebelum ada kota Jayapura, pusat peradaban hanya terpusat di sekitar pulau Debi, serta Kampung Tobati dan Enggros,” demikian cerita yang turun-temurun dari tetua adat setempat. Setelah masuknya ajaran Kristen dan berkembangnya peradaban, masyarakat mulai memperluas wilayah tinggal hingga ke daratan.

Kampung Enggros kini menjadi kampung terapung yang unik. Rumah-rumah kayu khas pesisir Papua berdiri di atas air, dihubungkan oleh dermaga kayu yang menyebar. Fasilitasnya lengkap: pos polisi, klinik, kantor kepala desa, gereja, hingga sarana air bersih dan listrik.

Beberapa bagian jalan di kampung ini bahkan dilengkapi atap, melindungi pejalan kaki dari hujan atau terik matahari.

Pemerintah pusat provinsi Papua membina Enggros menjadi kampung wisata. Kampung ini dianggap sebagai cikal bakal berdirinya Kota Jayapura.

Di sepanjang dermaga, terlihat tambak-tambak ikan. Warga Enggros umumnya mengembangbiakkan ikan bandeng dan bobara, dua jenis ikan yang populer di Papua. Meski berada di tengah laut tanpa tanah, warga tidak menyurutkan semangat bercocok tanam. Mereka menanam tanaman hias dalam pot-pot kecil di depan halaman rumah masing-masing.

Warga Enggros dikenal dengan tata krama yang dijunjung tinggi. Sebuah hukum tidak tertulis berlaku: berbicara keras, memainkan radio atau televisi dengan suara keras, serta sikap kasar—terutama pria terhadap wanita—sangat dilarang. Pelanggar dikenai hukuman sosial berupa pengucilan atau dipermalukan di muka umum.

Di Pulau Debi, ada fenomena alam yang menarik. Sebuah lapangan pasir kecil yang biasa digunakan anak-anak bermain bola akan hilang terendam saat air pasang, dan muncul kembali ketika air surut.

 

Sumber: Indonesia Kaya

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

1 month ago
2 months ago
2 months ago
3 months ago
3 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!