Rasulullah tak pernah meremehkan hidangan walau hanya cuka. Hadis riwayat Imam Muslim ini dicatat Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar sebagai bab khusus adab memuji makanan/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Dalam kehidupan sehari-hari, makanan bukan sekadar kebutuhan jasmani. Ia adalah bagian dari pengalaman sosial, spiritual, dan emosional yang menyatukan manusia dalam kebersamaan.

Di balik setiap hidangan, ada tangan-tangan yang bekerja, niat baik yang mengiringi, dan harapan agar yang menyantapnya merasa puas.
Sikap meremehkan hidangan—sekecil apa pun—tidak pernah ditemukan dalam akhlak Rasulullah SAW. Bahkan terhadap makanan yang paling sederhana sekalipun, beliau justru menunjukkan penghargaan yang luar biasa. Imam an-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar mencantumkan bab khusus berjudul “Bab tentang memuji makanan yang sedang dimakan oleh seseorang.”
Dalam bab ini, beliau mengutip hadis riwayat Imam Muslim dari sahabat Jabir RA. Rasulullah SAW bertanya kepada keluarganya tentang lauk-pauk yang tersedia. Mereka menjawab, “Kami hanya punya cuka.” Maka beliau meminta cuka itu, lalu mulai memakannya dan bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.”

Bayangkan, dalam kondisi sangat sederhana tanpa lauk lain selain cuka, Rasulullah tidak menunjukkan kekecewaan. Beliau tidak mengeluh, apalagi meremehkan. Ucapan beliau bukan sekadar basa-basi, melainkan pancaran dari hati yang penuh syukur dan akhlak luhur.
Rasulullah mengajarkan bahwa adab makan bukan hanya tentang cara duduk atau mengambil makanan. Lebih dari itu, adab makan adalah tentang bagaimana menghargai apa yang kita makan dan siapa yang menyediakannya. Bahkan terhadap makanan sederhana seperti cuka, beliau tetap menunjukkan rasa syukur dan penghargaan.
Memuji makanan bukan hanya soal rasa. Ia adalah ekspresi penghargaan terhadap nikmat Allah, dan juga terhadap orang yang menyediakan makanan. Pujian sederhana seperti “Masakannya enak sekali” bisa menjadi penyemangat luar biasa bagi seorang ibu, koki, atau siapa pun yang menyiapkan hidangan.
Sikap tidak pernah meremehkan hidangan ini menciptakan suasana hangat dan positif. Dalam keluarga, penghargaan terhadap masakan bisa mempererat hubungan. Dalam jamuan, pujian bisa mencairkan suasana dan membuka pintu komunikasi akrab.
Maka teladani Rasulullah: jangan pernah meremehkan hidangan apa pun yang tersaji. Jadikan setiap momen makan sebagai momen syukur, kebersamaan, dan menyebarkan kebaikan. Karena makanan bukan hanya tentang rasa di lidah, tetapi juga tentang rasa di hati.







Tidak ada komentar