Edy Wuryanto Minta Pemerintah Serius Hadapi Hantavirus: Vaksin Belum Ada, Angka Kematian 50 Persen

2 menit membaca
Nandang Permana
News, Politik - 13 Mei 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Jenis Andes virus yang mewabah di kapal pesiar MV Hondius menjadi alarm kewaspadaan nasional. Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah bergerak cepat karena virus ini memiliki dua keistimewaan yang membahayakan: bisa menular antarmanusia dan tingkat fatalitasnya mencapai 35 hingga 50 persen.

“Ini penyakit yang serius, karena jenis yang ditemukan di kapal ini tidak hanya menular antara hewan pengerat tikus dan manusia, tapi juga bisa melebar antar manusia. Itu yang pertama. Yang kedua, angka kematiannya tinggi, 35 persen sampai 50 persen,” ujar Edy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta dikutip Rabu (13/5/2026).

Hingga kini, belum ditemukan vaksin maupun obat khusus untuk Hantavirus jenis Andes. Penanganan medis masih bersifat suportif, hanya meningkatkan daya tahan tubuh pasien. Inilah yang membuat ancaman ini tidak bisa dianggap enteng.

Indonesia sebenarnya sudah lama mengenal hantavirus jenis Seoul. Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya 23 kasus dalam tiga tahun terakhir dengan tiga korban jiwa. Kabar baiknya, virus Seoul tidak mudah menular antarmanusia dan umumnya hanya menyebar dari tikus ke manusia melalui udara yang terkontaminasi.

Namun Edy menegaskan perbedaan mendasar antara kedua strain ini. “Virus Seoul kasusnya sudah ada, kasusnya nyata. Tapi beda dengan Andes yang ada di kapal itu. Andes tidak hanya menular dari tikus ke manusia, tapi dari manusia ke manusia,” jelasnya.

Politikus PDI Perjuangan itu pun menyoroti adanya satu orang di Jakarta yang diketahui pernah melakukan kontak erat dengan salah satu penderita di kapal. Meskipun hasil pemeriksaan awal menunjukkan negatif, Edy mengingatkan masa inkubasi virus yang panjang—bisa mencapai lebih dari dua minggu.

“Karena menular antarmanusia ke manusia, maka pemerintah harus serius mengamati pergerakan penyakit ini. Meskipun penyakit ini belum masuk ke Indonesia,” tegasnya.

Edy mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Penguatan pengamatan sistematis (surveilans) terhadap penyakit dengan gejala demam akut harus diperluas. Selain itu, kemampuan diagnosis di rumah sakit rujukan perlu ditingkatkan, termasuk ketersediaan pemeriksaan PCR dan serologi yang spesifik.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi publik. Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang atau ruangan kotor yang penuh kotoran tikus tanpa menggunakan masker dan sarung tangan. Padahal, itulah jalur utama penularan hantavirus.

Indonesia memiliki faktor risiko cukup besar akibat kepadatan penduduk, urbanisasi cepat, persoalan sanitasi lingkungan, dan tingginya populasi tikus di kawasan permukiman . Karena itu, Komisi IX akan mengagendakan rapat kerja dengan Menteri Kesehatan.

“Kita harapkan minggu depan kita undang Menteri Kesehatan agar kesiapannya bisa kita ikuti bersama, untuk kita awasi bersama,” pungkas Edy.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

6 days ago
2 weeks ago
1 month ago
1 month ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!