Donor Darah: Menyelamatkan Nyawa, Juga Jantung Anda Sendiri

2 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 13 Mei 2026

Indoragamnewscom-Palang Merah Indonesia mencatat kebutuhan darah nasional mencapai 4.500 kantong per hari. Angka itu jarang terpenuhi. Padahal di balik satu kantong darah, ada manfaat kesehatan yang tak banyak diketahui pendonor.

Donor darah bukan sekadar tindakan sosial. Regulasi mengamanatkannya dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, pasal 114 hingga 122. Darah yang disumbang digunakan untuk pasien trauma berat, anemia, talasemia, hemofilia, leukemia, hingga ibu melahirkan dengan perdarahan.

Penelitian American Journal of Epidemiology menemukan fakta menarik. Donor darah rutin menurunkan risiko penyakit jantung hingga 33 persen dan serangan jantung sampai 88 persen . Mekanismenya sederhana: darah mengandung zat besi. Kadar berlebih membuat darah kental dan mempercepat oksidasi kolesterol.

Setiap 450 mililiter darah yang didonorkan mengandung sekitar 250 mg zat besi. Tubuh manusia tak punya mekanisme alami untuk membuang kelebihan mineral ini. Akumulasi zat besi dapat menyebabkan hemokromatosis, yang merusak hati, jantung, dan pankreas.

Donor darah juga menstimulasi sumsum tulang memproduksi sel darah merah baru. Proses regenerasi ini meningkatkan kapasitas tubuh mengangkut oksigen ke seluruh organ.

Sebelum jarum suntik menusuk lengan, setiap pendonor menjalani pemeriksaan kesehatan gratis. Petugas mengecek tekanan darah (rentang normal 100/70 hingga 170/100 mmHg), kadar hemoglobin (minimal 12,5 g/dL untuk wanita, 13 g/dL untuk pria), suhu tubuh, dan denyut nadi . Darah yang terkumpul juga diuji untuk HIV, hepatitis B dan C, sifilis, serta malaria. Hasilnya, pendonor bisa mendeteksi dini penyakit serius tanpa biaya.

Penelitian menunjukkan, orang yang mendonor secara sukarela dengan motivasi altruistik memiliki risiko kematian lebih rendah dalam empat tahun ke depan dibandingkan mereka yang melakukannya untuk kepentingan pribadi.

Ada aturan main. Pendonor pertama kali harus berusia 17–60 tahun. Untuk pendonor rutin, batas maksimal 65 tahun. Berat badan minimal 45 kilogram. Jarak antardonor minimal tiga bulan atau 12 minggu, maksimal lima kali dalam dua tahun.

Beberapa kondisi jadi penghalang: sedang hamil atau menyusui, mengonsumsi obat pengencer darah, memiliki penyakit menular atau kelainan darah, baru membuat tato (harus tunggu enam bulan), atau memiliki riwayat kejang.

Setelah mendonor, tubuh butuh pemulihan. Hindari merokok minimal dua jam—nikotin menurunkan kemampuan darah membawa oksigen. Jauhi alkohol 24 jam ke depan karena mempercepat dehidrasi.
Olahraga berat sebaiknya ditunda 12–24 jam. Perluas konsumsi air putih dan makanan kaya zat besi, asam folat, serta vitamin C.

Reaksi ringan seperti memar, pusing, atau lelah biasanya muncul, terutama pada pendonor pemula . Ini wajar. Tubuh sedang menyesuaikan diri dengan berkurangnya volume darah.

Setiap tetes punya nilai. Bukan hanya bagi yang menerima, tapi juga yang memberi.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

6 days ago
2 weeks ago
1 month ago
1 month ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!