WHO pastikan wabah hantavirus di kapal pesiar bukan pandemi baru. Pakar Unair ingatkan perubahan lingkungan dan mobilitas global jadi faktor utama penyebaran virus dari tikus/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Kekhawatiran global sempat melonjak pascakemunculan klaster infeksi pernapasan di kapal pesiar MV Hondius yang menyeberangi Samudra Atlantik. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bergerak cepat: wabak ini bukan Covid-19 baru.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 12 Mei menyatakan hingga saat ini tidak ada petunjuk peningkatan signifikan, meskipun infeksi tambahan masih mungkin terjadi.
Hantavirus memiliki perbedaan fundamental dengan virus korona. Dokter Maria Van Kerkhove dari WHO menegaskan bahwa virus ini tidak menular melalui percikan ringan seperti SARS-CoV-2. Penularannya membutuhkan kontak dekat dan berkepanjangan karena virus ini terutama berasal dari hewan pengerat.
Data WHO mencatat sembilan kasus terkonfirmasi terkait dengan kapal pesiar tersebut hingga 11 Mei 2026, dengan tiga orang meninggal dunia. Seluruh penumpang dan kontak dekat menjalani karantina ketat selama 42 hari mulai 10 Mei hingga 21 Juni 2026.

Strain yang mewabah di kapal pesiar itu adalah Andes virus, satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui bisa menular antar manusia. Tingkat fatalitasnya mencapai sekitar 40 persen—jauh di atas rata-rata global infeksi hantavirus yang berkisar 20-40 persen untuk sindrom pernapasan.
Penularan Rodensia Bukan Manusia Jadi Akar Masalah
Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Laura Navika Yamani menjelaskan bahwa hantavirus tidak tiba-tiba muncul di ruang tertutup. “Kemungkinan paparan terjadi sebelum perjalanan atau saat individu berada di wilayah dengan populasi hewan pengerat,” ujarnya.
Masa inkubasi yang panjang—hingga beberapa minggu—membuat gejala baru bisa muncul setelah kapal berlayar ke perairan internasional. Aktivitas ekowisata modern dinilai ikut berperan memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu. Perubahan iklim dan pergeseran habitat satwa turut memengaruhi pola penyebaran reservoir penyakit.
Para ahli terus bekerja melalui instrumen investigasi genomik. HantaNet, sebuah mesin visualisasi mandiri untuk genom hantavirus yang dikembangkan dengan dukungan CDC, memfasilitasi surveilans dan klasifikasi virus untuk deteksi dini wabah.
Kabar baiknya, risiko bagi masyarakat umum masih rendah. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengidentifikasi satu WNA di Jakarta Pusat sebagai kontak erat, namun hasil pemeriksaan PCR menunjukkan negatif hantavirus. Kemenkes juga mengimbau masyarakat tidak mudah terpancing isu konspirasi dan tetap mengakses informasi resmi.
Laura mengajak publik untuk mendukung penguatan deteksi dini dan kesiapan fasilitas kesehatan. “Kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,” pungkasnya.







Tidak ada komentar