Rumah Betang Dayak Kanayatn di Landak, Kalbar, berdiri sejak 1875. Panjang 186 meter, 35 pintu, dihuni 150 jiwa. Arsitektur dari kayu ulin dengan kolong 4 meter/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Satu rumah, 35 pintu. Masing-masing dihuni dua hingga tiga keluarga. Total sekitar 150 jiwa tinggal di bawah atap yang sama.

Itulah Rumah Betang Dayak Kanayatn di Dusun Saham, Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Berdiri megah di tepian Sungai Kapuas. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 1875. Kayu ulin penyangganya masih asli. Tidak lapuk. Tidak goyah.
Kepala Dusun setempat, Jonianto, menyebut rumah ini berbeda dengan betang suku Dayak lain. “Rumah ini memiliki 35 pintu, dengan masing-masing pintu yang dapat menampung 2-3 kepala keluarga. Hal ini berbeda dengan rumah betang dari suku Dayak lain yang biasanya tidak lebih dari 5 unit,” jelasnya.
Panjang bangunan mencapai 186 meter. Lebar sekitar 10-15 meter. Tinggi kolong dari tanah sampai empat meter.

Ruang kosong di bawah itu dulu difungsikan untuk menyimpan padi hasil panen. Juga sebagai perlindungan dari musuh, hewan buas, dan banjir. Semua bahan bangunan dari kayu ulin, atau disebut juga kayu belian. Kayu besi khas Kalimantan itu dikenal kuat dan anti rayap.
Diperkirakan bangunan ini sudah empat generasi ditempati. Sarinah (64), salah satu penghuni, tak tahu persis kapan dibangun. “Mungkin sudah empat keturunan generasi tinggal di sini. Leluhur kami tidak ada yang menuliskannya,” katanya.
Ia masih setia menyelesaikan anyaman tarinak, tutup kepala berbentuk kerucut dari daun. Setiap buah dijual Rp35 ribu.
Arsitektur dan Tata Ruang
Tiga bagian utama rumah ini: pante (teras) selebar sekitar enam meter, samik (ruang tamu) lima meter, dan bilik (kamar). Setiap pintu masuk memiliki serambi yang tidak bersekat satu sama lain.
Di bagian tengah, ada ruang besar untuk pertemuan keluarga dan upacara adat. Tempat ini pula yang biasa digunakan para gadis Dayak untuk memahat kayu.
Dapur berukuran cuma 1×2 meter. Cukup untuk menempatkan tungku perapian dan menyimpan kayu bakar. Ruangan ini sengaja dibuat kecil dan sederhana, hanya untuk aktivitas memasak.
Pada 2012, bangunan ini menjalani rehabilitasi . Beberapa bagian mengalami perubahan. Tangga kayu berlekuk yang asli sebagian diganti dengan material modern. Namun struktur utama dan tiang-tiang kayu ulin tetap dipertahankan.
Kehidupan di Dalam Betang
Rumah Betang bukan sekadar tempat tinggal. Ini pusat kebudayaan dan jantung tradisi bagi suku Dayak Kanayatn .
Di teras sepanjang rumah, aktivitas harian berlangsung. Para wanita menyulam kain, memilah padi, atau saling menyisir rambut. Para pria duduk minum kopi sambil mendengarkan radio atau menonton televisi. Anak-anak berlarian di antara orang dewasa.
Penghuni juga memiliki sanggar seni untuk mempertahankan budaya dan regenerasi. Keahlian bermain musik gong dan kecapi diajarkan turun-temurun.
Sumber penghidupan utama dari berladang, menyadap karet (nyorek), dan menanam padi . Setiap akan memulai musim tanam, diadakan ritual di tempat khusus untuk memberikan penghormatan.
Anyaman dari daun dirangkai menjadi topi caping dan tas punggung untuk membawa hasil pertanian.
Monumen yang Masih Hidup
Tahun 2015, dilaporkan dalam betang terdapat warung yang menjual aneka jajanan dan kebutuhan pokok . Seperti desa mini dalam satu atap.
Kendati demikian, eksistensi rumah panjang sebagai hunian komunal perlahan tergerus zaman.
Penelitian Hartatik dari Balai Arkeologi Kalimantan Selatan yang dimuat Naditira Widya (2013) menyebutkan, selama empat dekade terakhir banyak rumah panjang ditinggalkan. Namun tidak dimanfaatkannya betang sebagai hunian komunal tidak berarti hilangnya nilai kebersamaan yang telah mengakar. Nilai itu bertahan. Bedanya, dulu diikat oleh kedekatan fisik setiap malam. Kini, oleh ingatan kolektif dan ritual yang sesekali dihelat.
Rumah Betang Landak bukan replika. Bukan pula museum. Ini tempat yang masih bernapas.
Benediktus Ja’es (75), penghuni tertua, menerka usia betang di atas 150 tahun. Beberapa bagian dinding masih dari kulit kayu. Atapnya masih dari sirap, irisan kayu keras yang disusun rapat.
Namun ia juga sadar. “Begitu panjang kehidupan di sini sejak leluhur kami, banyak hal sudah terlupakan,” katanya.







Tidak ada komentar