Gawai memberi manfaat edukasi bagi anak usia dini, namun penggunaan berlebihan berisiko hambat motorik, bahasa, dan sosial/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang pediatri sosial, Tuty Herawaty, mengingatkan orang tua soal bahaya penggunaan gadget secara berlebihan pada anak dan remaja.

Kebiasaan bermain ponsel hingga larut malam dinilainya dapat mengganggu produksi hormon melatonin.
Padahal, melatonin adalah hormon yang diproduksi kelenjar pineal di otak dan berperan langsung dalam mengatur ritme sirkadian serta kualitas tidur.
“Tidurnya bisa larut malam, lama-lama makin panjang jadi jam 11 sampai jam 12 malam karena keasyikan gadget,” ujar Tuty dalam Forum Sahabat Tunas di SMPN 25 Tangerang, Kamis (21/5/2026).

Akibatnya, siklus tidur anak kacau. Mereka jadi mudah mengantuk di sekolah, sulit konsentrasi, hingga kesulitan memahami pelajaran. “Akibatnya fokus belajar terganggu, sulit memahami kalimat panjang, gampang bosan, dan prestasi belajar bisa menurun,” katanya.
Anak perempuan berusia 14 hingga 17 tahun disebutnya paling rentan mengalami dampak negatif dari paparan gadget yang berlebihan. Sementara itu, studi menunjukkan 33,4 persen anak usia 0-6 tahun di Indonesia telah terbiasa menggunakan gawai.
Tak hanya soal akademik, Tuty juga menyoroti fenomena fear of missing out atau FOMO—rasa takut tertinggal informasi atau tren yang membuat anak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial.
Standar kehidupan yang ditampilkan di dunia maya sering kali tidak realistis. Anak bisa merasa minder, tidak puas dengan dirinya sendiri, hingga mengalami kecemasan. Kondisi ini dapat mengganggu regulasi emosi mereka.
Ancaman lain di dunia digital juga tak kalah serius. “Tidak semua orang di internet berniat baik. Ada risiko perundungan, penipuan, dan konten yang tidak sesuai usia anak,” ujarnya.
Di ranah fisik, anak yang terlalu lama menunduk di depan layar berisiko mengalami nyeri leher, gangguan tulang belakang, sakit kepala, hingga masalah penglihatan.
Tuty juga menilai penggunaan gadget yang terlalu intens dapat menurunkan kemampuan sosial anak. Mereka menjadi lebih nyaman berkomunikasi lewat pesan singkat dibanding berbicara langsung. Akibatnya, kemampuan membaca emosi orang lain dan rasa percaya diri ikut tergerus.
Sebagai solusi, ia mendorong anak-anak untuk lebih banyak melakukan aktivitas fisik dan interaksi langsung dengan teman sebaya. “Tidur yang baik membantu hormon pertumbuhan bekerja optimal. Gantilah penggunaan gadget dengan aktivitas fisik yang menyenangkan,” katanya.
Ia menyarankan penggunaan gadget dihentikan minimal dua jam sebelum tidur—sebuah praktik yang disebut digital curfew. Bahkan, anak sebaiknya tidak lagi menggunakan ponsel setelah pukul 19.00 WIB agar kualitas tidur tetap terjaga.
Peran guru dan orang tua, menurut Tuty, sangat penting untuk mengawasi penggunaan gadget pada anak melalui aturan yang jelas, baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua juga diminta menjadi contoh yang baik dengan tidak terlalu sering menggunakan ponsel saat bersama anak.







Tidak ada komentar