Ekonom Josua Pardede sebut BI Rate hanya solusi jangka pendek. Uchok Sky Khadafi desak Perry Warjiyo mundur karena kebijakan gagal kuatkan rupiah/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom, JAKARTA-Kenaikan suku bunga acuan bukan solusi tunggal untuk mengembalikan penguatan rupiah. Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan efektivitas kebijakan itu bergantung pada sejumlah faktor pendukung yang menentukan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

“Karena itu, kenaikan BI Rate lebih tepat dilihat sebagai langkah untuk meredam tekanan jangka pendek, bukan solusi tunggal untuk memulihkan rupiah,” kata Josua dalam keterangan tertulis dikutip Rabu (17/6/2026).
Josua menekankan tiga syarat utama agar kenaikan BI Rate optimal terhadap stabilisasi rupiah. Pertama, kenaikan suku bunga harus mampu menarik kembali aliran dana asing ke instrumen keuangan domestik, terutama SBN dan SRBI. Kedua, diperlukan koordinasi kuat antara BI dan pemerintah menjaga stabilitas likuiditas sektor keuangan. Ketiga, pemerintah perlu memperkuat kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal dan komunikasi kebijakan yang jelas.
“Jika tiga hal ini berjalan, rupiah berpeluang lebih stabil. Jika tidak, kenaikan suku bunga hanya akan membeli waktu dengan biaya yang semakin mahal,” tegasnya.

Ekonom Lain Desak Perry Warjiyo Mundur
Direktur Eksekutif Centre for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi justru mendesak Gubernur BI Perry Warjiyo segera mengundurkan diri. Menurutnya, rentetan kebijakan dinilai gagal menyelamatkan rupiah.
“Kalau menurut saya lebih baik Perry itu mengundurkan dirinya saja, masih ada waktu untuk tobat,” tegas Uchok.
Uchok menilai arah kebijakan moneter BI saat ini tidak memiliki desain besar yang jelas. Ketiadaan dana asing yang masuk membuat posisi cadangan devisa nasional ikut terkunci. “Jika terus-menerus dipakai untuk intervensi menahan pelemahan rupiah, lama-lama akan kering,” tegasnya.
Ia juga menyoroti langkah BI menaikkan BI Rate dan SRBI sebagai siasat menghipnotis investor agar tidak menarik dana jatuh temponya. “Itu kan ada utang jatuh tempo, kalau ini diambil semua bahaya buat BI dan pemerintah, uangnya dari mana? Maka dinaikkan supaya jangan cair, lu tetap aja di sini,” beber Uchok.






