Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Foto: Humas KemenkeuIndoragamnewscom, JAKARTA-Fondasi fiskal Indonesia tetap kuat di awal tahun 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut APBN masih efektif menopang pertumbuhan ekonomi meski ketidakpastian global meningkat.

Hingga akhir Maret, pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun. Realisasi itu setara 18,2 persen dari target APBN dan tumbuh 10,5 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Penerimaan perpajakan menjadi motor utama. Angkanya mencapai Rp462,7 triliun, tumbuh 14,3 persen secara tahunan. Dari jumlah itu, penerimaan pajak menyumbang Rp394,8 triliun dengan pertumbuhan 20,7 persen.
Menteri Keuangan menjelaskan lonjakan itu didorong membaiknya aktivitas usaha, harga komoditas yang masih bersahabat, serta kepatuhan wajib pajak yang meningkat. Transformasi digital administrasi perpajakan juga disebut berperan.

Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp67,9 triliun. Angka itu 20,2 persen dari target. Meski masih terkontraksi 12,6 persen secara tahunan, Purbaya menilai sektor ini tetap penting untuk melindungi industri domestik.
“Penerimaan tersebut dinilai tetap memberikan kontribusi penting dalam menopang pendapatan negara sekaligus mendukung pengelolaan perdagangan dan perlindungan industri domestik,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip Jumat(8/Mei/2026).
PNBP terealisasi Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target. Secara tahunan, pos ini menyusut 3 persen. Namun, jika dividen BUMN tidak diperhitungkan, PNBP justru tumbuh 7 persen.
Di sisi belanja, pemerintah bergerak cepat. Realisasi belanja negara mencapai Rp815 triliun, tumbuh 31,4 persen dibanding tahun lalu. Angka itu jauh lebih tinggi dari periode sama sebelumnya.
Belanja Pemerintah Pusat menyerap Rp610,3 triliun. Percepatan ini, kata Menkeu, untuk menjaga momentum pertumbuhan nasional. Program prioritas, belanja kementerian dan lembaga, serta perlindungan sosial menjadi fokus.
Transfer ke Daerah terealisasi Rp204,8 triliun atau 29,5 persen dari target. Pemerintah memastikan sinergi pusat-daerah terus diperkuat agar layanan publik dan pembangunan infrastruktur daerah berjalan optimal.
Salah satu program prioritas, MBG, telah menghabiskan Rp55,3 triliun hingga Maret. Program ini menjangkau 61,8 juta penerima dan melibatkan 26.066 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Secara keseluruhan, APBN mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Keseimbangan primer negatif Rp95,8 triliun. Pemerintah menyebut posisi ini masih sesuai desain APBN 2026.
“Pembiayaan anggaran juga dikelola secara prudent, efisien, dan fleksibel mengikuti dinamika pasar keuangan,” kata Purbaya.
Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tercatat 5,61 persen secara tahunan. Angka ini ditopang permintaan domestik yang kuat dan ekspansi sektor produktif. Pemerintah mencatat sektor manufaktur masih bertahan di zona ekspansi meski melambat.
Inflasi triwulan pertama berada di 3,48 persen. Angka ini bersifat temporer. Pada April 2026, inflasi turun ke 2,42 persen.
Ketahanan sektor keuangan tetap terjaga. Pemerintah aktif menjaga stabilitas rupiah, yield SBN, dan kepercayaan pasar. Sepanjang April 2026, pasar SBN mencatat net inflow Rp13,4 triliun.
“Incoming bid dan rata-rata bid-to-cover ratio lelang SBN tetap kuat,” ujar Menkeu. Ia menambahkan, spread SBN rupiah terhadap US Treasury lebih rendah dibanding banyak negara peers, menandakan risiko terkendali.
Pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan akan terus memantau perkembangan global.







Tidak ada komentar