Cuaca Terik dan 5 Langkah Lindungi Diri dari Panas

3 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 05 Jul 2026

Indoragamnewscom-Suhu di sejumlah wilayah Indonesia dalam pekan terakhir tercatat menyentuh 35 hingga 36 derajat Celsius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi ini masih dalam kisaran normal musim kemarau—bukan gelombang panas ekstrem seperti yang melanda Eropa.

Namun, kombinasi suhu tinggi dan kelembapan yang mencapai 80 hingga 100 persen membuat udara terasa lebih gerah dari angka yang tertera di termometer.

Risiko kesehatan tetap mengintai. Dehidrasi, kelelahan panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke) dapat terjadi jika tubuh tidak diberi waktu untuk mendinginkan diri.

Yang sering luput dari perhatian: kelompok rentan—lansia, anak-anak, ibu hamil, dan pekerja di luar ruangan—memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan akibat paparan panas berkepanjangan.

BMKG mencatat, suhu rata-rata di Indonesia naik sekitar 0,3 derajat Celsius setiap dekade . Meskipun tren ini masih tergolong lambat dibanding wilayah lain, dampaknya terhadap kesehatan mulai terukur.

Laporan Rencana Adaptasi Perubahan Iklim Indonesia tahun 2025 menyebut, indeks panas di beberapa kota saat El Nino sempat melebihi 40 derajat Celsius, memicu peningkatan rawat inap akibat sengatan panas dan penyakit kardiorespirasi sebesar 15 hingga 25 persen.

Kelebihan suhu di permukiman padat memperparah kondisi. Fenomena urban heat island—di mana gedung beton dan minimnya ruang terbuka hijau memerangkap panas—membuat suhu di kota besar terasa lebih tinggi daripada daerah sekitarnya.

Peneliti epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, mengatakan, kepadatan penduduk dan penggunaan kendaraan bermotor yang masif menambah beban polusi, sehingga risiko ganda, panas dan polusi udara, mengancam warga kota.

Langkah pencegahan sebenarnya sederhana, tapi sering diabaikan. Penuhi kebutuhan cairan tubuh secara teratur, dan jangan menunggu rasa haus muncul. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan minum air secara berkala sepanjang hari, bukan hanya saat merasa kepanasan. Pakaian longgar dan berwarna terang membantu tubuh menjaga suhu tetap stabil.

Paparan sinar matahari langsung pada jam puncak sekitar pukul 10.00 hingga 15.00, sebaiknya dihindari. Jika terpaksa beraktivitas di luar, gunakan topi, payung, atau tabir surya dengan SPF minimal 30 untuk melindungi kulit.

Langkah ini, menurut BMKG, penting tidak hanya untuk mencegah dehidrasi, tetapi juga melindungi dari paparan sinar ultraviolet yang merusak kulit.

Kebiasaan kecil lain yang sering dianggap sepele: jangan pernah meninggalkan siapa pun di dalam kendaraan yang terparkir, baik dengan kaca terbuka maupun tertutup.

Suhu di dalam mobil dapat meningkat drastis dalam hitungan menit, memicu sengatan panas yang fatal, terutama pada anak-anak dan lansia.

WHO mencatat, Eropa kehilangan lebih dari 1.300 jiwa akibat gelombang panas sejak 21 Juni 2026, dengan sebagian besar korban berusia 65 tahun ke atas. Di Indonesia, meskipun peluang gelombang panas ekstrem masih kecil karena kondisi geografis yang dikelilingi lautan, BMKG mengingatkan bahwa suhu malam hari yang turun, berbeda dengan Eropa, memberi kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan diri.

Namun, sistem peringatan dini tetap diperlukan. BMKG telah mengembangkan sistem peringatan dini suhu panas di beberapa kota besar dan akan memperluasnya secara bertahap.

Masyarakat diimbau memantau informasi cuaca dari sumber resmi dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala seperti pusing berat, mual, kulit kering dan panas, atau kejang.

 

Bagikan Disalin

IKLAN

INSTAGRAM

2 months ago
2 months ago
2 months ago
3 months ago
3 months ago

x
x
CLOSE ADS