Danau Anggi di Pegunungan Arfak menyimpan legenda cinta sepasang kekasih. Dua danau ini masih menyimpan misteri kedalaman yang belum terungkap/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Dua danau besar di Pegunungan Arfak, Manokwari, menyimpan kisah cinta abadi. Legenda setempat mengisahkan sepasang kekasih yang menjelma menjadi Danau Anggi Ginji dan Anggi Gita—yang kemudian dipercaya sebagai danau jantan dan betina. Dalam cerita yang turun-temurun, masing-masing danau dihuni oleh seekor naga.

Kawasan ini berada dalam Cagar Alam Pegunungan Arfak, di ketinggian sekitar 2.000 hingga 2.950 meter di atas permukaan laut. Jaraknya hanya 35 kilometer dari Kota Manokwari, namun medan menuju lokasi tergolong berat. Dibutuhkan kendaraan berpenggerak empat roda dan waktu tempuh 3-4 jam melintasi jalan tanah berbatu serta sungai-sungai deras.
Saat musim hujan, tanah longsor kerap menghambat perjalanan . Alternatif lain, pesawat kecil dari Manokwari hanya memerlukan 25 menit.
Penduduk setempat, mayoritas suku Arfak, menyambut pengunjung dengan keramahan. Di sekitar danau berdiri rumah tradisional igkojei atau tumisen, yang populer dengan sebutan “rumah kaki seribu” karena konstruksinya bertumpu pada banyak tiang penyangga.

Warga setempat dikenal karena kekuatan berjalan kaki tanpa alas menempuh jarak puluhan kilometer antardesa.
Kedua danau dipisahkan oleh sebuah bukit memanjang. Danau Anggi Gita berada di posisi lebih rendah. Perbedaan mencolok terlihat pada warna air—Ginji kehitaman, Gita biru terang—yang dipengaruhi pantulan hutan sekitar dan keberadaan plankton. Di kawasan ini tumbuh beragam flora endemik yang hanya ditemukan di Pegunungan Arfak.
Kedalaman kedua danau hingga kini masih menjadi misteri. “Banyak sekali peneliti yang ingin meneliti kedalaman kedua Danau Anggi, namun belum ada satupun yang mampu menyelam dan mencapai dasar danau,” demikian catatan warga setempat yang dihimpun dalam berbagai sumber.
Kawasan ini juga menjadi habitat bagi sekitar 110 spesies mamalia dan 320 spesies burung, banyak di antaranya endemik, termasuk burung namdur (Amblyornis inornatus) dan kupu-kupu sayap burung (Ornithoptera paradisea) yang semakin langka.
Sumber: Indonesia Kaya




