TRENDING

Sudjatmiko: Kecelakaan Bekasi Timur Buka Kelemahan Sistemik Perlintasan Sebidang

2 menit membaca
Nandang Permana
News, Politik - 01 Mei 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Anggota Komisi V DPR Sudjatmiko menolak membaca tabrakan maut di Stasiun Bekasi Timur sekadar sebagai kelalaian individu. Menurutnya, insiden yang merenggut 15 nyawa itu adalah bukti nyata rapuhnya sistem keselamatan transportasi nasional, terutama pada manajemen perlintasan sebidang.

“Kejadian ini tidak semata-mata disebabkan oleh individu, tapi ada persoalan sistem,” ujarnya dalam diskusi Forum Dialektika di Gedung Nusantara I, Senayan, Kamis (30/4/2026).

Ia mengungkapkan, praktik di lapangan masih jauh dari standar. Ratusan titik perlintasan, bahkan di wilayah penyangga ibu kota seperti Bekasi dan Depok, tidak dilengkapi penjagaan memadai. Politisi PKB itu menilai kegagalan mengamankan titik-titik rawan ini menjadi faktor paling krusial yang kerap diabaikan.

Jalan keluar jangka pendek, menurut Sudjatmiko, adalah penempatan petugas bersertifikat di setiap perlintasan berisiko tinggi. Ia menyoroti lemahnya disiplin pengguna jalan di Indonesia yang membuat kehadiran penjaga fisik tidak bisa digantikan begitu saja oleh rambu.

“Solusi jangka pendeknya adalah penjagaan penuh di pelintasan rawan oleh penjaga bersertifikat,” tegasnya.

Untuk jangka panjang, Sudjatmiko mendorong pemisahan jalur kereta komuter dan jarak jauh. Menurutnya, percepatan pembangunan double-double track (DDT) hingga Cikarang mendesak direalisasikan agar operasi kereta tidak saling mengganggu. Saat ini, jalur campuran dinilai sebagai zona rawan gangguan berantai seperti yang terjadi Senin lalu.

Ia juga menyoroti keterbatasan anggaran. Pemerintah pusat memang mengalokasikan dana untuk 1.800 perlintasan. Namun, Sudjatmiko mengingatkan bahwa dana sekitar Rp 4 triliun itu hanya cukup untuk palang pintu otomatis, bukan pembangunan flyover atau underpass yang lebih permanen.

“Kalau untuk perlintasannya menjadi tidak sebidang, pasti tidak cukup,” ujarnya mengingatkan perlunya skala prioritas yang jelas antara solusi sementara dan permanen.

Di era transportasi modern, Sudjatmiko memandang sudah saatnya masinis tak hanya mengandalkan sinyal dari stasiun. Ia mengusulkan pemasangan CCTV yang terhubung ke layar di kabin untuk memantau kondisi lintasan hingga dua kilometer ke depan.

“Masinis harus bisa mengetahui kondisi di depan secara visual,” katanya.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

1 month ago
1 month ago
1 month ago
1 month ago
1 month ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!