Enam adab makan dan minum dalam Islam: bismillah, tangan kanan, tidak berlebihan, duduk, tidak tergesa-gesa, dan alhamdulillah/Ilustrasi: Indoragamnewscom/GeminiIndoragamnewscom-Mengucapkan basmalah sebelum makan, menggunakan tangan kanan, tidak berlebihan, duduk dengan tenang, dan mengakhiri dengan hamdalah.

Enam adab sederhana ini bukan sekadar etika, tetapi sunnah Nabi Muhammad SAW yang menyimpan hikmah besar bagi kesehatan dan keberkahan hidup.
Dalam Islam, tata cara makan dan minum tidak hanya sekadar aturan etika biasa. Ini adalah sunnah Rasulullah SAW yang sarat hikmah—bagi jasmani maupun rohani. Dengan menerapkannya, setiap suapan bisa bernilai ibadah.
Pertama, mengucapkan “Bismillah” sebelum mulai makan atau minum. Rasulullah SAW mengajarkan ini sebagai bentuk pengakuan bahwa semua rezeki datang dari Allah. Ucapan ini menjadi penghalang setan dari ikut menikmati makanan dan menjadikan makanan yang dikonsumsi membawa berkah, bukan mudarat. Ini juga mengajarkan kita untuk selalu mengingat Allah dalam setiap aktivitas, sekecil apa pun.

Kedua, menggunakan tangan kanan. Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan jika minum, minumlah dengan tangan kanannya.” Tangan kanan dianggap lebih mulia dan lebih bersih, sesuai dengan fitrah dan adab Islami. Mengamalkan sunnah ini menjadi bentuk ketaatan sederhana yang bernilai ibadah dan menjaga keharmonisan dalam masyarakat.
Ketiga, tidak berlebihan saat makan. Islam menekankan keseimbangan. Rasulullah SAW mengajarkan membagi isi perut menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Makan berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit—obesitas, diabetes, gangguan pencernaan—sekaligus termasuk perbuatan israf (pemborosan) yang tidak disukai Allah.
Keempat, makan dengan duduk dan tidak tergesa-gesa. Posisi duduk lebih menenangkan dan memungkinkan pencernaan bekerja optimal. Makan tergesa-gesa dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Rasulullah SAW selalu makan dengan tenang, dan ini menjadi teladan yang patut dicontoh.
Kelima, mengakhiri dengan “Alhamdulillah.” Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang selesai makan lalu mengucap hamdalah, maka dosa-dosanya akan diampuni. Ini adalah bentuk syukur dan pengakuan bahwa segala rezeki adalah karunia Allah. Ini juga melatih hati agar tidak sombong dan selalu rendah hati.
Keenam, menjadikan semua adab ini sebagai wujud ketaatan. Menerapkan adab makan dan minum bukan sekadar etika, melainkan bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Setiap sunnah yang dijalani dengan niat benar akan mendatangkan pahala—dan hikmah yang nyata bagi kesehatan serta ketenangan jiwa.




