Harga Plastik Naik Dua Kali Lipat, UMKM Kian Terjepit

2 menit membaca
Nandang Permana
News, Politik - 15 Apr 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Harga plastik di tingkat pasar melonjak hingga 100 persen. Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo menyebut kenaikan ini bukan sekadar angka, ribuan pelaku UMKM dan industri rumahan yang bergantung pada kemasan sebagai bagian dari nilai jual produk mereka kini berada dalam tekanan ganda: menaikkan harga dengan risiko kehilangan pelanggan, atau menanggung sendiri biaya tambahan yang menggerus habis margin keuntungan.

Ia menjelaskan lonjakan harga plastik dipicu terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, yang berdampak pada harga minyak dunia serta biaya logistik dan impor.

Dampaknya langsung terasa hingga ke tingkat bawah. Harga eceran plastik di sejumlah daerah kini berada di kisaran Rp28.000 hingga Rp49.000 per kilogram untuk jenis tertentu. Beberapa produk seperti plastik bening untuk pembungkus es bahkan naik dari Rp33.000 menjadi Rp53.000 per pak.

“Saat harga plastik naik signifikan, dampaknya langsung terasa pada pelaku usaha kecil hingga industri rumahan yang menjadikan kemasan sebagai bagian dari nilai jual,” ujar Yoyok dikutip Rabu (15/4/2026).

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyebut komponen plastik menyumbang 20-40 persen dari total biaya produksi. Pada beberapa produk tertentu, angka itu bahkan mencapai 50-80 persen. Bagi UMKM dengan margin tipis, kondisi ini mulai menggerus profitabilitas.

Di tingkat pedagang, situasi tak kalah mencekik. Restu Anggi, pemilik toko plastik di Bojong Gede, Depok, terpaksa memangkas margin keuntungan dari sebelumnya 15 persen menjadi hanya 8 persen.

“Harganya masih berubah-ubah. Harga tadi malam bisa berbeda dengan harga pagi ini. Kami jadi tertekan,” katanya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Indonesia (Akumindo) Edy Misero mengatakan banyak pelaku UMKM memilih tidak menaikkan harga jual agar tetap kompetitif di pasar.

Langkah ini diambil agar produk tetap terjangkau bagi masyarakat, terutama di tengah kekhawatiran pelemahan daya beli.

Yoyok menegaskan bahwa bagi UMKM, plastik bukan sekadar pembungkus, tetapi bagian dari struktur produksi yang menentukan daya saing. Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan biaya produksi pada akhirnya akan berdampak pada konsumen melalui kenaikan harga barang, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.

“Jika konflik global berlangsung dalam horizon waktu yang panjang, maka tekanan ekonomi berpotensi meluas. Sektor pariwisata berbasis UMKM hingga denyut ekonomi lokal bisa ikut tergerus,” tegasnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!