Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh/Foto: Humas DPR RIIndoragamnewscom, JAKARTA-Wakil Ketua Komisi IX DPR RI yang juga anggota Tim Pengawas Haji 2026, Nihayatul Wafiroh, menemukan fakta mengejutkan di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah.
Lebih dari 200 ribu jemaah haji Indonesia hanya dilayani sekitar 700 tenaga kesehatan—jauh dari angka ideal.

“Tenaga kesehatan kita masih sangat kurang,” kata Nihayatul usai kunjungan ke KKHI Makkah, Sabtu (23/5/2026). Akibatnya, satu dokter dan satu perawat harus melayani 360 hingga 445 jemaah dengan jam kerja 24 jam setiap hari.
Kekurangan paling parah terjadi pada petugas kesehatan kloter. Dari kebutuhan ideal sekitar 1.600 petugas, yang tersedia hanya sekitar 700 orang. “Bahkan ada satu kloter yang tidak ada petugas kesehatannya karena visanya tidak keluar,” ujar politisi asal Jawa Timur itu.
Kondisi ini diperparah oleh dominasi jemaah lansia yang membutuhkan pengawasan medis intensif. Data menunjukkan 67 persen jemaah dari beberapa embarkasi adalah perempuan dengan berbagai kondisi kesehatan yang perlu dipantau secara ketat.

Nihayatul juga menyoroti kebijakan baru rumah sakit di Arab Saudi yang memperberat beban petugas. “Dua orang yang sakit ini harus ada penjaganya satu orang, dan penjaga itu harus petugas,” jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah Arab Saudi memang memberlakukan aturan pembatasan jumlah petugas haji. Setiap kelompok terbang (kloter) hanya difasilitasi dua petugas: satu ketua kloter merangkap pembimbing ibadah dan satu tenaga medis.
Untuk mengantisipasi krisis ini, Kementerian Haji dan Umrah sebenarnya telah menyiapkan klinik satelit di setiap sektor di Makkah. Masing-masing sektor diperkuat empat hingga lima tenaga kesehatan . Namun, Nihayatul menilai jumlah itu masih belum mencukupi.
Komisi IX dan Timwas Haji DPR akan membahas kebutuhan riil tenaga kesehatan untuk musim haji mendatang. “Kita berharap tahun depan idealnya memang seluruh petugas tenaga kesehatan sekitar 1.900-an,” tutur Nihayatul.







Tidak ada komentar