PDU Panarung Palangka Raya olah sampah plastik jadi paving block/Foto: Humas Pemkot Palangka RayaIndoragamnewscom, PALANGKA RAYA-Kenaikan harga plastik ritel yang mencapai 30-70 persen sejak awal April justru membuka peluang ekonomi sirkular di Palangka Raya. Pusat Daur Ulang Panarung mengolah plastik sekali pakai menjadi paving block Rp3.000 per keping.

Lonjakan harga bahan baku plastik akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah membuat harga kresek naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak. Di tengah tekanan itu, UPTD Pengolahan Sampah Terpadu Kecamatan Pahandut dan Sabangau memilih gerak cepat.
Kepala UPTD Robi Sarwo Prasojo mengatakan PDU Panarung telah memproduksi paving block dari limbah anorganik. Produk ini laku keras.
“Produk ini tidak hanya diminati masyarakat, tetapi juga telah dimanfaatkan oleh sejumlah instansi sebagai bagian dari penggunaan material ramah lingkungan,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Tiap hari, mesin peleleh dan press hidrolik di Jalan Wortel, Kelurahan Panarung, menghasilkan hingga 100 paving block. Jenis plastik yang diolah adalah limbah bernilai rendah—bungkus makanan ringan, kantong kresek, yang selama ini sulit didaur ulang dan menumpuk di TPA.
Pemkot Palangka Raya pernah memesan 13 ribu paving untuk kawasan Jalan Gelatik, setara dengan 19 ton sampah plastik yang berhasil diselamatkan dari tempat pembuangan akhir.
PDU tak berhenti di paving. Kompos, budidaya maggot, hingga pengolahan sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) juga dikembangkan. Produk turunan seperti sabun dan eco-enzyme masih dalam uji laboratorium.
“Karena masih terbatas sebelum uji lab, kita belum menjual,” kata Robi soal komitmen kualitas.
Dari sisi sosial, pengelolaan yang awalnya berbasis kelompok keluarga kini telah berkembang menjadi koperasi. Tenaga kerja digaji dari hasil penjualan produk daur ulang.
“Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Kenaikan harga plastik juga berdampak pada rantai nilai sampah. Robi mencatat adanya kenaikan harga beli limbah plastik di tingkat pengumpul hingga pabrik. Namun dampaknya terhadap jumlah nasabah bank sampah belum terlihat signifikan.
“Harapannya adalah masyarakat bisa memilah sampahnya sendiri dari rumah. Karena dengan bisa memilah sampah dari rumah, maka mengurangi tenaga kita untuk memilah di sini,” pungkasnya.
Dengan lebih dari 50 titik bank sampah di Palangka Raya, warga bisa menukar plastik dengan sembako atau saldo tabungan. Pemerintah kota berharap pengelolaan ini menjadi solusi berkelanjutan—menjaga lingkungan sekaligus memberi manfaat ekonomi.




Tidak ada komentar