Senny Marbun Pimpin APSF, Indonesia Tawarkan Model Pembinaan Atlet Disabilitas

2 menit membaca
Narendra Wicaksono
Olahraga - 07 Jun 2026

Indoragamnewscom, SURAKARTA -Pertemuan ASEAN Para Sports Federation (APSF) di Surakarta, Jumat (5/6/2026), tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru.

Lebih dari itu, Indonesia memosisikan diri sebagai laboratorium hidup pengembangan olahraga paralimpik di kawasan.

Senny Marbun, Ketua NPC Indonesia, resmi terpilih sebagai Presiden APSF periode 2026-2030 mengungguli kandidat asal Thailand, Maitree Kongruang, dengan perolehan tujuh suara dari sebelas negara anggota.

Pemilihan berlangsung di Grand Ballroom Hotel Alila sehari setelah forum pembukaan.

Di sela rangkaian acara, pelaksana pertemuan, Reda Manthovani, menyatakan bahwa evaluasi kompetisi dan penguatan kolaborasi multilateral menjadi fokus utama.

“Bagaimana ke depan atlet disabilitas ini harus semakin mendapat dukungan. Evaluasi yang dilakukan APSF juga bertujuan memperkuat semangat sportivitas dan pengembangan atlet,” ujarnya dikutip Minggu (7/6/2026).

Indonesia membawa modal nyata dalam forum tersebut. Reda menyebut keberadaan pusat pelatihan nasional di Desa Delingan, Karanganyar, sebagai aset yang belum tentu dimiliki negara tetangga.

Fasilitas itu menjadi bukti kesiapan sistem pembinaan jangka panjang.

“Kami memiliki training camp paralympic sport di Karanganyar sebagai pusat latihan dan pengembangan bagi para atlet. Ini menjadi salah satu bentuk komitmen Indonesia dalam mendukung kemajuan olahraga disabilitas,” tegas Reda.

Bulan lalu, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat menyebut fasilitas tersebut layak menjadi standar.

“Mereka menjadi inspirasi bahwa dengan segala keterbatasannya, mereka membuktikan mampu berprestasi. Semangat juangnya luar biasa,” kata Taufik saat menyambut kepulangan kontingen dari Thailand awal tahun ini.

Dengan kepemimpinan baru di APSF, Indonesia berpeluang menularkan sistem pembinaan ini ke tingkat ASEAN. Reda optimistis model pelatihan terpusat di Karanganyar bisa diadopsi negara lain untuk melahirkan lebih banyak atlet paralimpik berprestasi.

“Kami ingin seluruh perkembangan atlet dapat terpantau dengan baik,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.

Pertemuan di Solo mengusung semangat No One Left Behind, menegaskan bahwa kesetaraan kesempatan bukan sekadar slogan, melainkan target kerja kolektif 11 negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
1 month ago
1 month ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!