Situs Gunung Padang, Punden Berundak Megalitik Terbesar di Asia Tenggara

3 menit membaca
Evan Permana
Wisata - 29 Mar 2026

Indoragamnewscom-Gunung Padang, yang oleh masyarakat setempat disebut juga “Gunung Terang”, menyimpan misteri prasejarah yang masih terus diteliti hingga kini.

Bukan gunung aktif seperti namanya, situs megalitikum ini berada di puncak bukit setinggi 885 meter di atas permukaan laut, tepatnya di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Dengan luas kompleks mencapai sekitar 3 hektare, bangunan punden berundaknya dikenal sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, membawa pengunjung menyusuri jejak peradaban yang diperkirakan berusia ribuan tahun sebelum masehi.

Struktur punden berundak Gunung Padang mencerminkan tradisi megalitik—dari kata mega yang berarti besar dan lithos yang berarti batu. Bebatuan di situs ini sebagian besar berwarna abu-abu gelap dan berjenis andesit basaltis, tersusun dalam lima teras dengan ukuran berbeda.

Teras pertama merupakan yang terluas dengan jumlah batuan paling banyak, sementara semakin ke atas, jumlah batuan semakin berkurang. Setiap teras memiliki pola bangunan yang berbeda-beda, diduga mencerminkan fungsi dan tingkatan kesakralan yang berbeda pula.

Keberadaan situs ini pertama kali dicatat pada 1914 oleh Nicolaas Johannes Krom, seorang peneliti Belanda, dalam Rapporten van den Oudheidekundinge Dienst (ROD).

Krom melaporkan bahwa di puncak bukit yang berdekatan dengan Gunung Melati itu terdapat empat teras yang disusun dari batu kasar, dihiasi batu tegak andesit berbentuk lingga, dengan gundukan tanah yang ditimbuni batu di setiap terasnya. Pada masa itu, Krom mengidentifikasikannya sebagai makam karena bentuknya yang menggunduk.

Setelah sempat terlupakan selama beberapa dekade, pada 1979 tiga penduduk setempat Endi, Soma, dan Abidin menemukan kembali tumpukan batu persegi besar yang tersusun berundak dan melaporkannya ke kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur.

Sejak saat itu, penelitian intensif dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Bandung, serta berbagai institusi lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan di Gunung Padang merupakan punden berundak dari tradisi megalitik masa prasejarah. Berdasarkan pertanggalan karbon, diperkirakan situs ini dibangun antara 500 hingga 200 tahun sebelum masehi, dengan lapisan struktur yang lebih tua di bagian bawah mencapai usia sekitar 8.000 tahun sebelum masehi.

Bahkan, klaim yang lebih kontroversial menyebut fondasi tertua situs ini bisa mencapai usia 10.000 hingga 28.000 tahun, yang jika terbukti akan menjadikannya piramida tertua di dunia, lebih tua dari Piramida Giza di Mesir. Namun klaim ini masih menjadi perdebatan hangat di kalangan arkeolog.

Nama Gunung Padang sendiri berasal dari bahasa Sunda. Padang berarti terang, karena menurut kepercayaan masyarakat setempat, pada masa lalu dunia masih dalam keadaan kosong dan bersih. Ada pula yang menyebutnya sebagai “Gunung Terang” karena pada malam-malam tertentu sering terdengar suara-suara musikal dan tampak terang benderang di sekitar bukit.

Dari Kota Cianjur, perjalanan menuju Situs Gunung Padang berjarak sekitar 30,8 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu hingga satu setengah jam . Sementara dari Jakarta berjarak sekitar 165 kilometer, dan dari Bandung sekitar 110 kilometer.

Rute menuju lokasi cukup beragam, dengan beberapa ruas jalan beraspal mulus sementara lainnya masih berbatu dan berlubang. Untuk mencapai puncak, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga yang disusun dari batu andesit sekitar 468 anak tangga melalui jalur pendek atau 709 anak tangga melalui jalur yang lebih landai.

Di tahun 2022, Situs Gunung Padang masuk dalam 50 besar terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang diinisiasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Bahkan, situs ini pernah diangkat dalam serial dokumenter Netflix berjudul Ancient Apocalypse yang tayang pada 2022, menjadikannya semakin dikenal di kancah internasional .

Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi keindahan peninggalan sejarah yang eksotis, tetapi juga panorama alam yang menyejukkan.

Di sekitar kawasan terdapat beberapa destinasi pendukung seperti Curug Ciwung, camping ground, dan Perkebunan Teh Gunung Rosa Djaja. Tiket masuk situs ini dibanderol mulai dari Rp10.000 per orang.

 

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!