Festival Ogoh-ogoh/Foto: Pemko DenpasarIndoragamnewscom, BALI-Pemerintah Kota Denpasar merampungkan tahapan penilaian Kasanga Festival Kota Denpasar 2026 yang diikuti oleh 223 sekaa teruna dari berbagai banjar guna menyeleksi representasi budaya terbaik.

Kompetisi tahunan ini menitikberatkan pada objektivitas juri dalam mengevaluasi ratusan karya yang menunjukkan eskalasi kualitas teknis serta kedalaman filosofis.
Dari total peserta, otoritas festival hanya akan menetapkan 16 ogoh-ogoh terbaik untuk dipamerkan pada puncak acara di kawasan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung pada Maret mendatang.
Adapun proses kurasi dilakukan secara profesional dengan mengacu pada dua parameter fundamental, yakni aspek ideoplastis dan fisikoplastis.

Unsur ideoplastis menekankan pada orisinalitas gagasan dan pesan moral, sementara fisikoplastis menguji teknik rancang bangun, proporsi anatomi, hingga inovasi sistem mekanik.
“Ada peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Persaingan tahun ini sangat ketat karena generasi muda terus belajar dan berinovasi. Mereka tidak hanya kuat di konsep, tetapi juga semakin matang secara teknis,” ujar dewan juri, Komang Indra Wirawan, Kamis (26/02/2026).
Kendati terdapat integrasi teknologi pencahayaan dan mekanik yang mutakhir, tim juri tetap memprioritaskan nilai budaya serta penggunaan material ramah lingkungan.
Hal ini selaras dengan regulasi daerah mengenai pengurangan sampah berbasis sumber dan pelestarian ekosistem. Sementara itu, festival ini dipandang sebagai instrumen strategis dalam membina kreativitas pemuda adat sekaligus memperkuat solidaritas antarbanjar di tengah dinamika modernisasi global.
Di sisi lain, perhelatan Kasanga Festival merupakan rangkaian integral dalam menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka. Secara tradisi, ogoh-ogoh merepresentasikan personifikasi bhuta kala yang diarak pada malam Pengerupukan sebagai simbol netralisasi energi negatif.
Tradisi yang berkembang masif sejak dekade 1980-an ini kini bertransformasi menjadi ruang apresiasi seni yang mampu menarik atensi wisatawan mancanegara, sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi Catur Brata Penyepian di wilayah yurisdiksi Kota Denpasar.






