Anggota DPR Netty Prasetiyani dorong tiga kebijakan konkret di Hari Kartini: taman pengasuhan anak PMI, layanan kesehatan mental ibu, dan perluasan lapangan kerja/Foto: Humas DPR RIIndoragamnewscom, JAKARTA-Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, tidak ingin peringatan Hari Kartini hanya berisi untaian kata manis. Ia mendorong tiga terobosan kebijakan yang menurutnya mendesak dijalankan: taman pengasuhan berbasis masyarakat untuk anak pekerja migran, layanan kesehatan mental terintegrasi bagi ibu, serta perluasan lapangan kerja dalam negeri.

“Memuliakan perempuan bukan slogan. Ia harus hadir dalam kebijakan yang melindungi, memberdayakan, dan memastikan setiap perempuan dapat menjalankan perannya dengan aman dan bermartabat,” ujar Netty dalam keterangan persnya, Selasa (21/4/2026).
Harapan pertama Netty menyasar para ibu yang terpaksa menjadi pekerja migran. Ia meminta pemerintah membangun taman pengasuhan berbasis masyarakat untuk anak-anak yang ditinggal. Sebab, menurutnya, kultur pengasuhan di Indonesia masih membebankan peran utama pada ibu.
“Dengan kultur itu, anak-anak mereka berisiko mengalami kurangnya pengasuhan. Hal ini berdampak pada tumbuh kembangnya,” jelas Netty.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi pengasuhan yang melibatkan para ayah. Bukan hanya tugas ibu, kata Netty, tanggung jawab membesarkan anak harus didistribusikan secara lebih adil di dalam keluarga.
Harapan kedua berkaitan dengan akar masalah: mengapa ibu-ibu sampai memilih pergi ke luar negeri. Netty menilai pemerintah wajib memperluas peluang ekonomi di dalam negeri.
“Jika tersedia peluang ekonomi yang luas, perempuan dengan anak-anak yang masih butuh perhatian tidak harus pergi jauh sebagai pekerja migran,” tambahnya.
Harapan ketiga menyentuh ranah yang sering luput dari perhatian: kesehatan mental ibu. Netty mendorong penguatan layanan jiwa yang mudah diakses, khususnya bagi para ibu. Ia mengingatkan bahwa dalam kasus ekstrem, gangguan kesehatan mental pada ibu dapat berdampak pada keselamatan anak.
“Kesehatan mental ibu adalah fondasi penting dalam keluarga. Jika tidak ditangani dengan baik, dampaknya bisa sangat serius,” tegasnya.
Netty juga meminta agar isu kesehatan mental tidak lagi dianggap tabu. Layanan tersebut, katanya, harus menjadi bagian integral dari sistem kesehatan nasional, terutama untuk ibu dan anak.
Di luar tiga harapan itu, Netty menyoroti masih tingginya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Ia menyebutnya sebagai alarm serius. “Negara harus memastikan sistem perlindungan yang kuat, mulai dari pencegahan, penanganan, hingga pemulihan korban,” ujarnya.
Bagi Netty, perjuangan Kartini abad ke-21 tidak lagi cukup dengan sekolah seperti era R.A. Kartini. Kini medan perjuangannya adalah kebijakan yang berpihak, anggaran yang memadai, dan implementasi yang tidak setengah hati.







Tidak ada komentar