Ibu-ibu PKK Semarang dan DIY kumpulkan minyak jelantah. Pertamina olah jadi bioavtur di Kilang Cilacap. Program ini dukung ketahanan energi dan ekonomi sirkular/IlustrasiIndoragamnewscom, JAKARTA-Minyak jelantah dari dapur ibu-ibu PKK di Semarang dan DIY kini berubah menjadi bahan bakar pesawat. Pengolahan berlangsung di Kilang Cilacap melalui program bioavtur Pertamina.

Anggota Komisi XII DPR RI, Rokhmat Ardiyan, menyebut terobosan ini sebagai langkah positif. Menurutnya, limbah rumah tangga yang semula berbahaya kini memiliki nilai ekonomi setelah diolah menjadi energi baru.
“Tadi Bapak GM MOR IV menyampaikan bahwa di Semarang, di MOR IV Semarang, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ada ibu-ibu dari PKK yang mengumpulkan minyak jelantah ini yang diolah di Kilang Cilacap untuk dijadikan avtur,” ujar Rokhmat usai kunjungan kerja ke Yogyakarta, Kamis (23/4/2026).
Program ini bukan sekadar pengelolaan sampah. Rokhmat melihat keterlibatan ibu-ibu PKK sebagai mata rantai penting dalam ekonomi sirkular. Selain mengurangi pencemaran, pengumpulan jelantah membuka peluang pendapatan baru di tingkat lokal.

“Ini adalah terobosan yang sangat positif, di mana minyak jelantah atau minyak sampah yang bisa menjadi limbah berbahaya, kini diubah menjadi avtur,” jelas legislator dari Fraksi Partai Gerindra itu.
Pertamina Patra Niaga resmi memproduksi bioavtur berbasis used cooking oil (UCO) secara komersial sejak Maret 2026 . Kilang Cilacap menjadi pusat pengolahan dengan kapasitas awal 45.000 barel. Produk yang diberi nama PertaminaSAF ini telah memenuhi standar internasional Defence Standard 91-091.
Dari Cilacap, bioavtur didistribusikan ke dua bandara utama: Ngurah Rai Bali dan Soekarno-Hatta. Pada akhir Maret 2026, pengiriman perdana telah dilakukan melalui kapal tanker.
Pengumpulan jelantah di Semarang sendiri bukan tanpa sistem. Pertamina meluncurkan program UCollect di sejumlah SPBU, memungkinkan masyarakat menukar minyak jelantah dengan saldo e-wallet. Hingga Oktober 2025, lebih dari 3.300 liter jelantah terkumpul dengan nilai tukar mencapai Rp18,4 juta.
Rokhmat juga mendorong Pertamina untuk terus menjaga stok BBM dan LPG. “Harapannya Pertamina meningkatkan kinerja, meningkatkan stok BBM dan LPG, sehingga bisa terwujud ketahanan energi, swasembada energi, dan kemandirian energi,” sebutnya.
Ke depan, Pertamina menargetkan peningkatan kapasitas produksi bioavtur dari 27 kiloliter per hari menjadi 887 kiloliter per hari pada 2029 melalui Proyek Biorefinery Cilacap Phase 2.







Tidak ada komentar