Mercusuar Cikoneng di Anyer, Banten, memiliki tinggi 75,5 meter dengan 286 anak tangga. Dibangun tahun 1885, menjadi penanda titik nol jalan Anyer-Panarukan/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Menara setinggi 75,5 meter itu berdiri kokoh di tepi Pantai Anyer. Warnanya putih. Bentuknya meruncing ke atas. Orang menyebutnya Mercusuar Cikoneng. Tapi di balik keindahannya, bangunan ini menyimpan dua versi sejarah yang berbeda.

Di pintu masuknya terukir angka 1885 . Zaman pemerintahan Raja Belanda Willem III. Tulisan dalam bahasa Belanda itu menyebutkan bahwa mercusuar ini dibangun untuk menggantikan menara batu yang hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883 . Puing-puing mercusuar lama konon hanya tersisa pondasinya.
Namun penjaga mercusuar memiliki cerita lain. Menurut penuturan mereka, bangunan awal sebenarnya didirikan pada 1806 . Dua tahun setelah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memulai proyek Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan . Daendels membangun jalan sepanjang 1.000 kilometer itu dalam waktu setahun, dengan kerja paksa ribuan pribumi.
Yang menarik, mercusuar yang berdiri sekarang pun lokasinya berbeda dengan yang asli. Bangunan baru ini dibangun 500 meter dari garis pantai. Sementara pondasi mercusuar lama dijadikan tugu penanda nol kilometer Anyer-Panarukan. Tugu itu kini berdiri di depan menara, berbentuk tangan menopang bola dunia.

Dinding mercusuar terbuat dari baja setebal 2,5 hingga 3 sentimeter . Pabrik pembuatnya adalah L.I.E.N.T.H.O.V.E.N & Co dari Den Haag, Belanda. Untuk mencapai puncak, pengunjung harus menaiki 286 anak tangga yang terbagi dalam 18 tingkat.
Di sisi luar dinding, bekas tembakan meriam masih terlihat. Itu adalah goresan sejarah dari masa pendudukan Jepang, ketika pasukan imperial berusaha merebut Nusantara.
Fungsi utama mercusuar ini tetap sama sejak pertama berdiri: sebagai navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda. Lampu di puncaknya mampu menjangkau radius 25 mil laut. Hingga kini, bangunan ini masih dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.
Namun seiring waktu, mercusuar ini juga menjadi destinasi wisata. Pada akhir pekan, puluhan pengunjung datang. Mereka membayar tiket masuk sekitar Rp5.000. Tapi tidak semua orang bisa naik ke puncak. Pengelola hanya membuka akses ke dalam menara pada momen-momen tertentu, seperti Hari Kemerdekaan.
Dari puncak, pemandangan membentang: laut lepas, Jalan Raya Anyer, dan perbukitan hijau di selatan. Saat sore, matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Warna jingga dan merah muda memantul di permukaan air.
Di sekitar kawasan mercusuar, tersedia berbagai penginapan. Mulai dari hotel hingga vila. Beberapa platform pemesanan online seperti Agoda menawarkan akomodasi dengan label “RedDoorz Plus near Tugu Mercusuar Anyer”. Jarak dari Kota Cilegon hanya sekitar 30 menit berkendara.
Pada Februari 2026, mercusuar ini juga menjadi lokasi pengamatan hilal. Tim dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Banten memanfaatkan ketinggian menara untuk menentukan awal Ramadhan 1447 Hijriah.
Sejarawan dari Universitas Lampung dalam jurnalnya menulis bahwa mercusuar ini bukan sekadar menara penunjuk arah. Ia adalah penanda eksistensi Kota Banten sebagai pelabuhan penting di masa kolonial. Dan di bawah pemerintahannya, Daendels ingin memastikan jalur pos dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa terhubung dengan sempurna.
Bekas tembakan meriam di dindingnya, tugu nol kilometer di depannya, dan dua versi sejarah yang masih diperdebatkanāsemua berlapis di satu tempat yang sama: Mercusuar Cikoneng.







Tidak ada komentar