Netty Minta Perlindungan Nakes Diperkuat, Dorong Skrining Kesehatan Jiwa Berkala

2 menit membaca
Nandang Permana
News, Politik - 02 Jul 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah memperkuat perlindungan terhadap tenaga kesehatan menyusul meninggalnya seorang dokter muda di Nusa Tenggara Timur yang diduga mengalami tekanan psikologis saat bertugas.
Netty menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha dan berharap proses penyelidikan dapat berjalan objektif .

“Pertama-tama saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga almarhumah. Kita semua berharap proses penyelidikan dapat berjalan secara objektif sehingga penyebab peristiwa ini menjadi terang,” ujarnya di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Netty menegaskan kasus ini menjadi pengingat bahwa tenaga kesehatan membutuhkan lingkungan kerja yang aman, bebas dari intimidasi, serta didukung layanan kesehatan jiwa yang memadai. Menurutnya, beban kerja tinggi dan tekanan emosional yang dihadapi tenaga kesehatan harus direspons melalui sistem dukungan yang lebih kuat .

“Tenaga kesehatan membutuhkan lingkungan kerja yang aman agar dapat memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Tidak boleh ada tindakan yang membuat mereka merasa tertekan dalam menjalankan profesinya,” tegas politisi PKS tersebut.

Netty mengungkapkan isu perlindungan tenaga kesehatan telah menjadi perhatian Komisi IX dalam rapat kerja bersama Menteri Kesehatan. Salah satu dorongan yang disampaikan adalah perlunya skrining kesehatan jiwa secara berkala sebagai langkah deteksi dini terhadap masalah kesehatan mental tenaga kesehatan dan tenaga medis .

“Kami mendorong Kementerian Kesehatan segera melakukan skrining kesehatan jiwa secara berkala sebagai upaya deteksi dini terhadap masalah kesehatan mental tenaga kesehatan dan tenaga medis. Jangan menunggu setelah terjadi tragedi baru kita bertindak,” ujarnya.

Ia juga meminta Kementerian Kesehatan menyusun program dukungan psikologis komprehensif bagi tenaga kesehatan dan peserta pendidikan klinis, terutama yang bertugas di unit dengan tekanan tinggi seperti IGD, ICU, lokasi bencana, maupun daerah konflik .

“Mereka adalah garda terdepan pelayanan kesehatan yang setiap hari menghadapi tekanan luar biasa. Negara wajib memastikan mereka memiliki sistem dukungan yang kuat, baik dari sisi kesehatan mental maupun perlindungan saat menjalankan tugas,” katanya.

Netty juga meminta setiap rumah sakit memiliki mekanisme perlindungan jelas bagi tenaga kesehatan apabila menghadapi intimidasi, ancaman, maupun konflik saat memberikan pelayanan.

“Rumah sakit tidak boleh membiarkan tenaga kesehatannya menghadapi tekanan seorang diri. Harus ada sistem perlindungan, pendampingan, dan pelaporan yang jelas sehingga mereka dapat bekerja secara profesional dan aman,” pungkasnya.

 

Bagikan Disalin

IKLAN

INSTAGRAM

2 months ago
2 months ago
2 months ago
3 months ago
3 months ago

x
x
CLOSE ADS