Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya /Foto: Humas KemenekrafIndoragamnewscom, JAKARTA-Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan pentingnya mengoptimalkan akar budaya sebagai sumber nilai ekonomi baru.

Salah satu upaya yang didorong pemerintah adalah revitalisasi keraton sebagai pusat budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif, mengingat negara dengan industri kreatif maju seperti AS (Hollywood), Jepang (anime), Korea Selatan (K-pop dan drama), serta India (Bollywood) umumnya memiliki fondasi budaya yang kuat dan mampu mengolahnya menjadi kekuatan ekonomi.
“Nusantara memiliki potensi besar dengan kekayaan budaya, sejarah, dan kearifan lokal dari keraton-keraton yang dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi kreatif,” ujar Riefky dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/4/2026).
Pernyataan ini disampaikan dalam acara Seminar Silaturahmi Keraton Nusantara yang digelar di Gedung Soesilo Soedarman, Kemenko PMK, Jakarta, Jumat (24/4/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) ini mengusung tema “Revitalisasi Keraton dalam Menjaga Kedaulatan dan Identitas Budaya Menuju Indonesia Emas 2045”.

FSKN sendiri merupakan forum yang mewadahi kerajaan dan kesultanan di Indonesia sejak 2006 dan berperan dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dalam pembangunan kebudayaan nasional.
Riefky menekankan bahwa keraton tidak hanya berfungsi sebagai penjaga tradisi, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat inovasi ekonomi kreatif.
Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan revitalisasi keraton sebagai bagian dari upaya menjaga identitas bangsa.
“Dari cerita sejarah bisa lahir berbagai produk kreatif seperti komik, film, animasi, hingga gim. Sumbernya tidak akan habis karena setiap daerah memiliki cerita dan legenda yang bisa dikembangkan,” jelasnya.
Seminar dan pameran tersebut menjadi ruang diskusi antara raja, sultan, budayawan, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif untuk merumuskan arah kebijakan revitalisasi keraton secara terstruktur, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Seminar ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia dan Dirjen Kebudayaan, yang memberikan wawasan tentang konsep kota pusaka dan langkah strategis revitalisasi kawasan keraton.
Ketua panitia kegiatan, Dedi Yusmen, menambahkan bahwa penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal perlu didukung oleh pemanfaatan teknologi modern. Menurutnya, kekayaan ilmu dan pengetahuan yang berasal dari keraton merupakan potensi besar yang belum sepenuhnya digarap.
Selain diskusi, kegiatan ini juga menampilkan pameran karya seni dari Asosiasi Pelukis Nusantara yang mengangkat tema budaya, sejarah, dan kebangsaan. Dalam sambutannya, Ketua Umum Asosiasi Pelukis Nusantara, H. Sofyan, mengungkapkan dukungannya terhadap revitalisasi keraton sebagai pusat kreativitas budaya.
“Dengan sinergi yang solid antara keraton, pemerintah, dan pelaku seni, kita dapat menciptakan ekosistem yang mendukung kebangkitan budaya dan ekonomi bangsa,” ujarnya.
Upaya revitalisasi keraton diharapkan tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta membuka lapangan kerja baru melalui sektor ekonomi kreatif yang berkelanjutan.







Tidak ada komentar