Sambung Nyawa dan Klaim Ilmiah di Baliknya

3 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 03 Mei 2026

Indoragamnewscom-Tanaman merambat berdaun hijau muda ini populer dengan nama sambung nyawa. Nama ilmiahnya Gynura procumbens. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menyebutnya sebagai tanaman liar yang paling banyak ditemui di Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali . Tak butuh perawatan khusus. Ia tumbuh di hampir semua jenis tanah.

Flavonoid, terpenoid, dan asam fenolat menjadi senyawa aktif utamanya. Di balik nama yang dramatis—sambung nyawa, “perpanjangan hidup” dalam bahasa Melayu—tersimpan sejumlah klaim manfaat yang terus diuji para peneliti. Mari kita bedah satu per satu.

Ginjal. Sebuah tinjauan ilmiah di jurnal Frontiers in Pharmacology (2016) mencatat penggunaan tradisional tanaman ini untuk ketidaknyamanan ginjal. Namun efeknya pada kerusakan ginjal manusia masih perlu penelitian lebih lanjut.

Hipertensi dan jantung. Ekstrak daun sambung nyawa menghambat aktivitas angiotensin converting enzyme (ACE)—enzim pemicu penyempitan pembuluh darah. Pada tikus hipertensi, tekanan darah sistolik dan tekanan arteri rata-rata turun signifikan. Juga ditemukan efek penghambatan aliran kalsium ke pembuluh darah, yang membuat pembuluh melebar. Belum ada uji coba pada manusia.

Peradangan. Daun ini dipercaya meredakan rematik. Studi pada hewan menunjukkan sifat antiinflamasi berkat kandungan flavonoid, steroid, dan kaempferol . Di Thailand, daun ini juga digunakan untuk mengobati penyakit virus.

Antioksidan. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) menyebut flavonoid dalam sambung nyawa bersifat antioksidan, anti-inflamasi, anti-mutagenik, dan anti-karsinogenik.

Kanker. Ini klaim paling populer. Tiga lembar daun segar per hari selama tujuh hari dipercaya masyarakat sebagai obat kanker rahim, payudara, dan darah. Penelitian di laboratorium menunjukkan ekstrak etanolik daun ini mampu menghambat siklus sel kanker dan pertumbuhan pembuluh darah menuju kanker.

Namun Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry menegaskan penelitian masih terbatas. Bahkan ekstrak yang digunakan berbeda bentuknya dengan rebusan daun biasa.

Diabetes. Pada tikus diabetes, ekstrak daun ini menurunkan kadar gula darah. Cara kerjanya disebut-sebut mirip metformin—menghambat hati melepas glukosa ke darah. Yang menarik: efek ini hanya muncul pada hewan diabetes. Tikus normal tak mengalami perubahan. Belum ada uji pada manusia.

Kesuburan pria. Penelitian pada tikus diabetes menunjukkan peningkatan jumlah sperma, motilitas (gerakan), dan penurunan kematian sel sperma. Aktivitas enzim laktat dehidrogenase—yang berperan dalam spermatogenesis—juga meningkat. Masih sebatas hewan coba.

Pencernaan. Penggunaan tradisional menyebutkan daun ini meredakan luka lambung dan tukak. Efek gastroprotektif ini dilaporkan dalam sejumlah studi, meski lagi-lagi kebanyakan bersifat preklinis.

Antimikroba. Ekstrak daun ini menunjukkan efektivitas melawan Plasmodium (penyebab malaria), virus herpes simpleks, bakteri Bacillus cereus, Salmonella typhi, hingga jamur Candida albicans. Sebuah uji coba pada pasien herpes di bibir menunjukkan penurunan jumlah virus, namun beberapa partisipan tak menyelesaikan rangkaian penelitian.

Cara konsumsi. Makan mentah sebagai lalapan. Direbus seperti teh. Diolah jadi lauk. Atau dalam bentuk suplemen—pastikan berizin BPOM.

Yang perlu diingat. dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes., yang meninjau riset ini secara medis, mengingatkan, sebagian besar temuan masih bersifat dugaan awal karena hanya berdasarkan uji sampel sel, jaringan, atau tikus. Jangan jadikan herbal sebagai pengobatan pertama dan satu-satunya.

“Selalu konsultasikan dengan dokter. Ada kemungkinan interaksi obat yang mengurangi efektivitas daun atau pun obat yang dikonsumsi,” ungkapnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

11 hours ago
1 month ago
1 month ago
1 month ago
1 month ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!