Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berbicara dengan Nandang, pedagang korban pembakaran kios saat kerusuhan May Day di Bandung/Foto: Instagram KDMIndoragamnewscom, BANDUNG-Nandang menangis di hadapan Gubernur Jawa Barat. Bukan karena sedih biasa. Kios tempatnya menjual rokok, bensin, dan gas elpiji 3 kilogram ludes dibakar saat kerusuhan May Day di Bandung, Jumat (1/5/2026) petang.

Dedi Mulyadi tak memberi janji. Ia bertindak. Utang pembuatan kios dan modal usaha Nandang langsung dilunasi. “Bapak jangan ngelamun saja,” kata Dedi. “Utang pembuatan kios dan modal kiosnya sudah lunas. Bapak enggak punya beban”.
Bukan hanya itu. Mantan Bupati Purwakarta itu mengangkat Nandang sebagai petugas kebersihan. Lokasi kerjanya: bekas kios yang terbakar. “Mulai hari Senin, Bapak Nandang kerja. Jadi apa? Tenaga kebersihan di tempat Bapak jualan,” ujar Dedi.
Seluruh rangkaian bantuan itu diumumkan Dedi melalui unggahan Instagram, Minggu (3/5/2026), yang kemudian dikonfirmasi ulang.

Nandang hanya bisa mengucap syukur. “Alhamdulillah dapat bantuan untuk mengganti. Anak-anak bisa makan, bisa bersekolah,” ujarnya lega.
Bantuan serupa pernah diberikan Dedi pada korban kerusuhan sebelumnya. Saat gerobak mie ayam milik Bu Ela hangus terbakar dalam aksi ricuh di Bandung tahun lalu, Dedi memberikan modal usaha Rp10 juta dan uang sewa rumah untuk satu tahun . Pola yang sama: respons cepat, tanpa birokrasi panjang, menyasar langsung akar masalah.
Sementara itu, di luar urusan Nandang, kepolisian terus bergerak. Polda Jawa Barat telah menetapkan enam pelajar sebagai tersangka dalam kerusuhan May Day. Barang bukti yang disita: dua bom molotov, bensin, serta atribut bertuliskan “Punk Football Hate Cops”.
Keenam tersangka positif mengonsumsi obat keras jenis Tramadol saat beraksi. Petugas juga mengamankan psikotropika lain: Alprazolam, Mersi, Euforis, dan Risperidon.
Dedi menegaskan hukum tetap berjalan. “Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Tetap pelaku kerusuhan diproses secara hukum berdasarkan undang-undang yang berlaku,” ujarnya.
Untuk pelaku di bawah umur, Dedi memastikan ada ketentuan khusus. Ia membuka opsi pendidikan di barak militer, sama seperti pendekatan yang pernah ia tawarkan pada remaja bermasalah di masa lalu. “Saya sebagai Gubernur siap membina anak-anak itu untuk menjadi anak-anak yang tidak lagi berbuat onar di Kota Bandung,” katanya.




Tidak ada komentar