Strategi Menghadapi Pergerakan Harga Bitcoin yang Terjebak Fase Konsolidasi

3 menit membaca
Ninding Yulius Permana
Nasional, News - 21 Feb 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Pergerakan harga Bitcoin saat ini tertahan dalam fase konsolidasi pada kisaran USD 67.000 hingga USD 68.000 setelah sempat mengalami reli. Pakar digital Anthony Leong menilai kondisi pasar kripto menunjukkan pola sideways dengan tingkat volatilitas yang tetap tinggi.

Pasar disinyalir sedang menunggu katalis kuat, baik dari sisi makroekonomi global maupun arus dana institusional yang masuk melalui ETF kripto.

Fenomena ini menjadi fase krusial bagi investor untuk menentukan arah akumulasi atau distribusi sebelum aset kripto terbesar ini menentukan tren selanjutnya.

“Bitcoin saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah reli sebelumnya. Investor perlu memahami bahwa pergerakan harga di area ini adalah fase penentuan arah berikutnya. Jika mampu menembus resistance kuat di atas USD 70.000, potensi penguatan lanjutan terbuka. Namun jika gagal bertahan di area support, koreksi jangka pendek bisa terjadi,” ujar Anthony dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).

Ia menekankan bahwa sentimen global, termasuk kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan kondisi geopolitik, tetap menjadi variabel utama yang memengaruhi fluktuasi harga di pasar spot maupun derivatif.

Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Bidang Sinergitas Danantara, BUMN dan BUMD tersebut mengingatkan investor ritel untuk tidak gegabah mengambil keputusan jangka pendek.

Disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci utama mengingat karakter pasar kripto yang agresif. Strategi bertahap dinilai lebih aman bagi pemodal guna memitigasi potensi kerugian akibat perubahan harga yang mendadak di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Investor harus disiplin dalam manajemen risiko. Jangan hanya melihat potensi kenaikan, tetapi juga mempersiapkan skenario koreksi. Diversifikasi dan strategi bertahap seperti dollar cost averaging (DCA) tetap relevan dalam kondisi pasar seperti sekarang,” tambahnya.

Anthony melihat secara fundamental, adopsi teknologi blockchain yang semakin luas serta keterlibatan institusi keuangan besar masih menjadi penyokong utama bagi nilai Bitcoin dalam jangka panjang.

Kendati memiliki prospek pertumbuhan, pemahaman terhadap profil risiko tetap tidak boleh diabaikan oleh masyarakat.

Literasi digital menjadi fondasi penting sebelum terjun ke instrumen investasi yang memiliki risiko tinggi.

Anthony menegaskan bahwa Bitcoin telah bergeser dari sekadar aset spekulatif menjadi bagian integral dari transformasi ekosistem keuangan digital global, namun tetap membutuhkan kecermatan dalam pengelolaan modal.

“Bitcoin bukan sekadar aset spekulatif, tetapi bagian dari transformasi ekosistem keuangan digital. Namun, setiap investor harus memahami profil risikonya dan tidak menggunakan dana yang tidak siap untuk fluktuasi,” tegas Anthony.

Masyarakat diimbau untuk tetap rasional dan tidak terjebak dalam euforia saat harga melonjak maupun kepanikan massal ketika pasar mengalami koreksi tajam. Strategi yang matang akan membantu investor memanfaatkan momentum pasar dengan lebih bijak tanpa terpengaruh oleh sentimen sesaat.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!