Peternak ayam petelur/Foto: IstimewaIndoragamnewscom, BOJONEGORO-Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyiapkan strategi perlindungan bagi peternak ayam petelur di tengah tekanan biaya produksi dan fluktuasi harga telur.

Dua langkah utama yang ditempuh: pemanfaatan dana CSR untuk menekan biaya pakan dan perluasan akses pasar melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Kepala Bidang Peternakan Disnakkan Bojonegoro, drh. Indra Firmansyah, mengatakan pemerintah tengah membahas pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility sebagai instrumen memperkuat usaha peternak.
Bentuk bantuan yang dipertimbangkan adalah pengadaan alat pengolah pakan atau subsidi pakan langsung.

“Skema yang akan dipilih masih dalam pembahasan, apakah melalui pengadaan alat pengolah pakan atau bantuan berupa subsidi pakan. Namun yang jelas, langkah tersebut akan segera direalisasikan dalam waktu dekat karena melihat kondisi peternak saat ini,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Sejak diluncurkan pada 2025, Program GAYATRI telah menjangkau ribuan keluarga melalui berbagai skema pendanaan: APBD induk, perubahan APBD, dukungan CSR, dan APBDes . Di tahun 2026, program ini menyasar 4.400 keluarga penerima manfaat.
Di sisi hilir, Disnakkan akan mempertemukan pengelola SPPG untuk membahas mekanisme penyerapan telur dari peternak peserta Program GAYATRI. Langkah ini menindaklanjuti arahan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah. Penyaluran diperkirakan tetap menggunakan mekanisme pihak ketiga sesuai ketentuan administrasi dan pertanggungjawaban.
Dukungan terhadap biaya produksi, kepastian pasar, dan kolaborasi dengan dunia usaha melalui CSR menjadi tiga pilar penting agar peternak mampu bertahan di tengah fluktuasi harga.
Model pendampingan seperti ini dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam mengembangkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat.




